Sejarah Kerajaan Makassar – Kesultanan Gowa-Tallo

2 min read

Pada dasarnya tidak ada Kerajaan Makassar secara definitif, hanya ada kerajaan Gowa-Tallo yakni aliansi kerajaan yang ada di wilayah suku-suku Makassar dengan menuangkan Sombayya ri Gowa sebagai Raja dan Perdana Menteri Tallo.

A. Asal-Usul Kerajaan Gowa

Kerajaan Gowa pada awalnya adalah wilayah kecil di daerah selatan Sulawesi Selatan khususnya wilayah Gowa dan Makassar yang terdiri dari 9 kerajaan kecil yang disebut Kasuwiyang. Kasuwiyang tersebut adalah :

  1. Tombolo (ᨈᨚᨅᨚᨒᨚ)
  2. Lakiung (ᨒᨀᨘᨕᨘ)
  3. Saumata (ᨔᨕᨘᨆᨈ)
  4. Parang-Parang (ᨄᨑᨂ)
  5. Data’ (ᨉᨈ)
  6. Agang Je’ne (ᨕᨁ ᨍᨙᨊᨙ)
  7. Bissei (ᨔᨙᨕᨗ)
  8. Kaili (ᨀᨕᨗᨒᨗ)
  9. Sero (ᨔᨙᨑᨚ)

9 Kasuwiyang ini saling bertarung satu sama lain untuk menunjukkan eksistensi mereka sehingga sangat sulit untuk melihat suku-suku makassar ini hidup dalam damai. Setiap orang saling mencurigai dan saling membunuh sampai pada akhirnya tetua adat masing-masing Kasuwiyang bersepakat untuk mencari jalan keluar dari perang yang tak kunjung berakhir ini.

Para tetua adat ini disebut sebagai Bate dan karena jumlah 9 kasuwiyang maka mereka disebut sebagai Bate Salapang. Dalam bahasa Makassar, sembilan disebut Salapang. Mereka kemudian menunjukkan seorang wanita yang konon turun dari langit yang diperintahkan oleh Batara (Ilahi dalam kepercayaan Makassar Tradisional) untuk mendamaikan kehidupan suku-suku Makassar.

Wanita ini selanjutnya disebut sebagai Tumanurunga. Secara Harfiah Tumanurung artinya adalah orang yang turun dari langit.

1. Terbentuknya Kerajaan Gowa

Para Bate Salapang yang khawatir dengan kondisi di Tanah Makassar yang selalu perang Saudara antara Kasuwiyang sepakat bertemu dalam membentuk sebuah dewat adat yang tidak memiliki kepentingan kekuasaan. Kendati demikian mereka memiliki hasrat politik yang bertujuan mendamaikan saudara yang tak kunjung berhenti. Dewan adat yang terbentuk selanjutnya disebut sebagai Paccalaya yang secara harfiah berarti yang mengingatkan.

Paccalaya ini selanjutnya bertemu dan menyatakan bahwa telah datang Wahyu dari langit tentang adanya orang langit yang diturunkan untuk mendamaikan perang saudara di antara mereka. Orang tersebut adalah seorang wanita yang saat ini sudah berada di sebuah bukit di wilayah Kasuwiyang Data.

Wanita ini kemudian diperkenalkan sebagai Tumanurung Baine atau “Wanita yang diturunkan dari Langit” selanjutnya diangkat oleh Paccalaya. Sebagaimana yang kita Ketahui, Tumanurung Baine menjadi Raja Pertama Gowa.

2. Proses Islamisasi

Proses Islamisasi di daerah Gowa dapat diketahui dari hikayat-hikayat Gowa-Tallo dan Wajo. Pengembangan Islam di Jawa berlangsung secara damai. Mubaligh-mubaligh yang berjasa menanamkan Islam di daerah ini adalah Dato’ Ri Bandang, Dato’ Sulaiman, Dato’ Patimang, dan Dato’ ri Tiro. Pada tahun 1603 kedua raja penguasa dwi tunggal kerajaan Gowa Tallo masuk Islam. Raja Gowa, Daeng Manrabia, secara resmi masuk Islam dan mengambil gelar Sultan Alauddin. Raja Tallo, Karaeng Matoaya setelah masuk Islam mengambil gelar Sultan Abdullah.

Kedua raja islam pertama di kerajaan Makassar ini memperoleh julukan Awalul Islam. Kedua raja ini giat dalam memperluas pengaruh islam serta memperluas wilayah kekuasaannya. Wilayah kekuasaan kerajaan Makassar meliputi sebagian besar Sulawesi Selatan serta pulau-pulau di sekitarnya sampai ke Nusa Tenggara Timur.

Dato’ Ri Bandang ialah seorang ulama berasal dari Koto Tangah, Minangkabau yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib tunggal.

a. Corak Kehidupan Ekonomi

Peranan kerajaan Gowa – Tallo dalam perdagangan adalah sebagai bandar transito bagi perdagangan rempah-rempah. Pelabuhan kerajaan Gowa Tallo disebut Somba Opu-Makassar yang oleh orang-orang Makassar disebut Ujung Pandang sekarang ini. Sultan Alauddin dan Abdullah merupakan sosok raja yang sangat menentang praktek monopoli perdagangan.

b. Corak Kehidupan Politik

Sultan Makassar secara terang-terangan menentang tindakan Belanda di Maluku. Sampai wafatnya pada 1639 Sultan Alauddin adalah musuh bebuyutan bagi Belanda. Perjuangannya dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Said, yang tidak segan-segan mengirimkan armadanya ke Maluku untuk membantu rakyat melawan penjajah.

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1660), Kerajaan Makassar mencapai puncak kejayaannya. Ia berhasil membangun Makassar menjadi kerajaan yang menguasai jalur perdagangan di wilayah Indonesia Bagian Timur. Persaingan antara Goa-Tallo (Makassar) dengan Bone yang berlangsung cukup lama diakhiri dengan keterlibatan Belanda dalam Perang Makassar (1660-1669). Keberaniannya melawan Belanda membuat Sultan Hasanuddin dijuluki “Ayam Jantan dari Timur oleh orang-orang Belanda sendiri. Dalam perang ini Hasanuddin tidak berhasil mematahkan ambisi Belanda untuk menguasai Makassar. Dengan terpaksa, Makassar harus menyetujui Perjanjian Bongaya (1667) yang isinya sesuai dengan keinginan Belanda, yaitu:

  1. Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar;
  2. Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar;
  3. Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya berupa daerah di luar Makassar;
  4. Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone.


Walaupun perjanjian sudah ditandatangani, tetapi Sultan Hasanuddin tetap berjuang melawan Belanda. Setelah Benteng Sombaopu jatuh ke tangan Belanda, Sultan Hasanuddin turun takhta. Kekuasaannya diserahkan kepada putranya, Mappasomba. Belanda berharap Mapasomba dapat bekerja sama, namun sebaliknya, ia meneruskan perjuangan ayahnya

Rakyat Makassar marah atas keputusan Perjanjian Bongaya. Perlawanan rakyat Makassar kian berkobar dan berlangsung hampir dua tahun. Banyak pejuang Makassar pergi ke daerah-daerah lain, seperti Banten, Madura, dan sebagainya guna membantu daerah-daerah bersangkutan dalam upaya mengusir VOC. Pejuang tersebut di antaranya Karaeng Galesung, Monte Marano yang membantu perjuangan rakyat di Jawa Timur.

Sementara itu Aru Palaka semakin leluasa untuk menguasai daerah Soppeng dengan pengawasan dan pantauan dari VOC. Setelah perjuangan rakyat Makassar benar-benar padam, Makassar pun jatuh ke tangan VOC secara keseluruhan. Sebutan Makasar sebagai pusat perdagangan bebas, lenyap begitu saja.

c. Kehidupan Sosial Budaya

Mengingat Makassar sebagai kerajaan maritim dengan sumber kehidupan masyarakat pada aktivitas pelayaran perdagangan maka sebagian besar kebudayaannya dipengaruhi oleh keadaan tersebut. Hasil kebudayaan yang terkenal dari Makasar adalah perahu Pinisi dan Lambo. Selain itu juga berkembang kebudayaan lain seperti seni bangun, seni sastra, seni suara dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *