Saracen – Sejarah Penyebutan Muslim Arab Pada Era Dark Age

Dzargon – Saracen merupakan sebuah sebutan atau istilah yang disadur dari bahasa Yunani σαρακηνοί atau dilafalkan sarakenoi. Sebutan ini kemudian diserap dalam bahasa Latin dengan nama Saraceni. Sebuatn ini merujuk pada sebutan yang digunakan oleh Kristen pada abad pertengahan untuk menyebut orang-orang Islam yang tinggal di wilayah gurun pasir di daerah kekuasaan Bizantium atau Romawi Timur. Sebutan ini memberikan perbedaan dengan orang Islam yang mendiami Arab Saudi di Timur Tengah.
Sebutan ini digunakan secara luas di Eropa pada masa perang Salib untuk sekelompok suku-suku Arabia, sedangkan dalam bangsa Portugis menggunakan istilah untuk orang-orang Arab yang mendiami semenanjung Iberia.

Istilah saracen dan defenisi sesaui dengan sejarah
Lukisan Tentara Malta abad Pertengahan

Saracen Abad 12.

Pada abad ke-12, Saracen merupakan sinonim duntuk “Muslim” dan digunakan secara luas dalam sastra Latin abad pertengahan. Kebanyakan karya Sastra yang menyebutkan Saracen merujuk pada karya Sastra orang Yunani Bizantium dan sudah mulai luas digunakan dalam dokumen resmi pada abad ke-8. Istilah Saracen digunakan sampai pada abad ke-16 dalam tulisan-tulisan di Barat, hanya sebagian kecil saja tulisan barat yang menggunakan istilah Islam atau Muslim

Saracen diambil dari bahasa Yunani (Σαρακηνός) yang berarti yang diduga serapan dari bahasa Arab شرقيين atau syarqiyyin yang berarti orang-orang timur. Pelafalan Saracen merupakan bunyi yang dihasilkan oleh Yunani pada masa tersebut.

Istilah Saracen banyak digunakan secara luas untuk menyebutkan orang-orang yang tinggal dikawasan gurun di provinsi Romawi Petrea dan sekitarnya yakni daerah Jazirah Arab dan bagian utara dari Semenanjung Sinai. Pada awal penggunaan istilah Saracen ini digunakan untuk membedakan penduduk di daerah tersebut dengan orang-orang arab. 

Pada masa berikutnya, Istilah Saracen kemudian digunakan oleh orang-orang Kristen Romawi secara luas untuk merujuk pada seluruh suku-suku yang tinggal di daerah Arabia. Setelah masa kebangkitan ISlam, terutama pada masa Perang Salib, Istilah Saracen lebih merujuk pada bangsa-bangsa Islam Arab. Istilah juga digunakan secara luas di daerah Eropa Barat yang merupakan bentuk pengaruh dari kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) dan Crusader.

Saracen Abad Pertengahan

Pada Zaman Pertengahan, Istilah Saracen di Eropa mengalami pergeseran makna yakni lebih bersifat konotasi negatif. Sebuah karya dari abad VIII karya Yohannes dari Damascus menuliskan bahwa Saracen adalah pengikut nabi palsu dan pelopor antikristus. Tulisan ini dianggap penuh kontroversi di dunia Islam.

Orang Eropa pada abad XII memiliki pandangan dan pemahaman yang lebih kuat mengenai definisi dari Islam dan Saracen yang digunakan untuk menjelaskan identitas bangsa dan agama. Pada zaman tersebut Saracen digolongkan muslim yang berkulit hitam sedangkan kristen berkulit putih. Sebagai salah satu contoh karya Sastra Chanson de Roland (“Syair Roland”) sebuah syair kepahlawanan Perancis abad ke-11 yang mengaitkan warna kulit sebagai ciri utama dari Saracen.

Penulis asal Damaskus, ibn Kanan (Arab: محمد بن كَنّان الصالحي‎), dalam karyanya Levantine Diary, mencakup tahun-tahun 1699-1740, melaporkan penggunaan istilah sarkan dalam arti “bepergian dalam suatu misi militer” oleh orang-orang dari Timur Dekat sampai ke bagian-bagian Eropa Selatan yang dibawah kekuasaan Kekaisaran Utsmaniyah, khususnya Siprus dan Rhodes.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *