Fakta Menyakitkan Dibalik Syuting Film Dewasa

Tujuan ditulisnya artikel ini bukan untuk mengajak Anda menonton film dewasa. Tetapi untuk memberitahukan kepada Anda, fakta menyedihkan yang tidak terlihat dibalik layar. Dengan artikel ini, diharapkan dapat menurunkan ataupun menghilangkan minat Anda kepada film yang merusak moral tersebut.

Gadis cantik, bertubuh s*ksi dan mata yang membangkitkan gairah seakan-akan berkata “i want You“. Itu kesan yang terlihat di setiap sampul film dewasa. Tapi, bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang masa.

Fakta dibalik Pembuatan Film dewasa adalah sebagai berikut:

Jadwal Syuting yang Padat

Artis film dewasa 100% berbohong kalau mereka bilang menikmati pembuatan film yang mereka perankan. Meski artis wanita bisa dibayar 10 kali lipat dari pemeran pria tapi dalam proses pembuatan film dewasa bisa berlangsung 18 jam sehari untuk menghemat budget dan dalam sehari mereka bisa shoting utk 3-4 scene berbeda.

Menahan Rasa Sakit

Setiap scene-nya bisa berlangsung berjam-jam, tergantung dari apakah artisnya bisa ‘tampil’ sesuai dengan harapan sang sutradara atau apakah si artis harus istirahat dulu karena rasa sakit saat melakukan adegan hardcore. Seperti adegan anal s*ks yang seringkali harus dihentikan karena ada yang seharusnya tidak boleh tampil

Berusaha Menenangkan Diri

Saat menunggu scene berikutnya biasanya artis film dewasa menghabiskan waktu di restroom untuk minum minuman keras atau memakai narkoba untuk mengurangi rasa malu dan sakit dalam adegan berikutnya.

Untuk diketahui, di industri film dewasa, tes yang wajib dilakukan untuk tiap aktor & artis adalah test HIV (sebulan sekali) sedangkan test drugs tidak ada.

Menyiksa Secara Fisik dan Mental

Situasi saat syuting film dewasa sangat menyiksa baik secara fisik maupun mental khususnya untuk artis wanita karena 12-18 orang berdiri dibalik layar, mulai dari sutradara dan asistennya, fans berat yang dapat tontonan langsung sampai tukang lampu dan fotografer yang punya hak untuk mem-‘freeze’ adegan tertentu agar bisa diambil sudut pemotretan yang terbaik.

Penuh Kebohongan

Artis p adalah pembohong profesional karena kalau mereka menceritakan kenyataan sebenernya maka hancurlah fantasi yang ada di tiap kepala ngeres para penggemar dan sekaligus menghancurkan karir ‘indah’ mereka. Dan disinilah ironisnya karena sudah terbiasa berbohong, para artis film ini biasanya malah punya kemampuan akting yang lebih baik dari kebanyakan bintang hollywood.

Penyakit Menular

66% artis film dewasa menderita herpes dan sekitar 12-28% menderita penyakit menular seksual lainnya.

Inilah kisah dan pengakuan Shelley Lubben tentang masa buruk dan seluk beluk industri maksiat itu. Tulisan ini diturunkan sebagai pelajaran bagi kita semua. Terutama para aktivis yang ‘menurut mata’ terhadap dampak industri p*rnografi.

Berdasarkan pengakuan mantan artis film dewasa terkenal, Shelley Lubben:

Percayalah, Aku tahu

“Aku dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya karena Nafsuku akan kekuasaan dan kecintaanku kepada uang. Aku tidak pernah menyukai s*ks. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan faktanya aku lebih banyak minum Jack Daniels (jenis minuman alkohol import original. Sejenis Jhonny Walke yang juga masuk Indonesia) daripada bersama para pria yang dibayar seperti aku untuk ‘berpura-pura’ di film.

Ya, bear! Tidak ada diantara kami, gadis-gadis blonde yang menyukai being in p*rn movie. Kami benci disentuh oleh orang asing yang sama sekali tidak peduli dengan kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat dan bau busuknya. Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break syuting. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan diri dengan merokok tanpa henti.

Tetapi P*rn Industry (industri p*rnografi) ingin agar kamu selalu berpikir kalau kami artis film dewasa sangat menyukai s*ks. Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti binatang dalam berbagai jenis adegan di film.

Kenyataannya, artis film dewasa sering tidak tahu apa saja adegan yang akan mereka lakukan saat pertama kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh produser: “Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa kerja lagi.”

Iya, Memang Benar Kami Punya Pilihan

Beberapa diantara kami memang sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.

Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yang sukar disembuhkan. Salah seorang artis film dewasa setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan pistol.

Kebanyakan dari artis film dewasa mungkin berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada diatas tubuh kami.

Jadi sejak kecil kami belajar bahwa s*ks bisa membuat kami berharga. Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.

Karena trauma itu kebanyakan artis film dewasa hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti Herpes, gonorrhea, syphilis, chlamydia, dan lain-lain yang setiap hari menghantui kami.

Menurut catatan Shelley dalam situs web-nya, sebelas bintang p*rnografi mati akibat HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005, 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain p*rnografi terkena Herpes, penyakit yang tak dapat disembuhkan.

Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu, kalau hal tersebut tidak akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain penyakit, adegan syuting tidak kalah mengerikannya, banyak dari kami mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.

Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yang normal. Tapi sangat sulit menjalin hubungan yang normal dengan laki-laki ‘biasa’, maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film dewasa atau menjalani hidup sebagai lesbian.

Buat aku, momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya yang telanjang sedang berciuman dengan gadis lain. Anakku pasti akan terus mengingatnya juga.

Pada hari yang lain kami bisa berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky di tangan kiri. Kami tidak suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis film dewasa benci memasak sendiri. Biasanya kami memesan makanan yang kemudian kami muntahkan lagi karena kebanyakan dari kami menderita bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan.

Bagi artis film dewasa yang memiliki anak, kami adalah ibu yang paling buruk. Kami menjerit dan bahkan memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya sampai-sampai anak kami yang berumur 4 tahun yang menyeret kami dari lantai. Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan s*ks) kami harus mengunci anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.

Kalau aku biasa membekali anak gadisku dengan pager dan kusuruh dia menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku.

Semua Tipuan

“Kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film dewasa mungkin kamu akan kehilangan minat menonton film dewasa. Kenyataan sebenarnya kami artis film dewasa ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.

Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.

Industri film dewasa tidak lebih dari ‘s*ks palsu’ dan ‘tipuan kamera’. Percayalah…….!

Janganlah melihat sesuatu dari luarnya saja karena tidak jarang justru nilai-nilai yang lebih substansial berada jauh didalamnya. Begitu juga dalam realitas film dewasa. Dari sini setidaknya kita mengetahui bahwa ternyata film dewasa itu bisa kita sebut sebagai fasilitas ‘hiburan’ yang menyakitkan, jadi apakah anda akan tetap ingin terus menonton ‘hiburan’ ini? Terserah Anda.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *