Prostitusi dan Wisata adalah dua hal yang tidak pernah direncanakan bahkan dilarang. Namun pada kenyataannya di lapangan, selalu saja ada layanan seks dari pekerja seks komersial terselebung dan sulit untuk dihilangkan 100%.
Daftar Isi
Seks Terselubung di Labuan Bajo
Awal Pelacuran di Labuan Bajo
Labuan Bajo merupakan kota kecil yang terletak di ujung barat Pulau Flores. Wilayahnya terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu kawasan pesisir yang berada di sepanjang pantai dan kawasan perbukitan yang menawarkan pemandangan alam yang indah. Kota ini dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku, seperti Manggarai, Timor, Bajo, Bugis, dan Bima, yang hidup berdampingan dan membentuk keberagaman budaya yang khas.
Labuan Bajo sudah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Berbagai objek wisata menarik dapat ditemukan di daerah ini, mulai dari Taman Nasional Komodo yang mendunia, Batu Cermin, Batu Susun, Pulau Bidadari, Pulau Kanawa, Seraya Kecil, hingga Pantai Wae Cicu. Keindahan alam serta pesona bawah lautnya membuat Labuan Bajo selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Dunia pelacuran saat itu berjalan bebas dan terbuka. Tidak ada pihak yang berani menentangnya, baik itu pihak pemerintah maupun kelompok religius. Praktek inipun berjalan mulus hingga tahun 1998. Bersamaan dengan runtuhnya rezim orba pelacuran di labuan bajo kembali dilakukan secara tertutup. Tidak ada tempat khusus, Homestay Kansas koleps sejak Mami-nya meninggal dunia. Losmen sahabatpun demikian, buka prkatek secara diam diam.
Praktek Pelacuran di Labuan Bajo sejak tahun 2003 kembali tumbuh subur bahkan menjamur seiring diangkatnya kota itu sebagai ibu kota kabupaten Manggarai Barat, hasil pemekaran Kabupaten Manggarai. Tempat hiburan malam seperti Pub, Karoke, Bar paling banyak terdapat di wilayah Gorontalo. Wilayah yang sejak tahun 80-an menjadi tempt “keramat” kini berubah drastis menjadi kawasan perhotelan dan wilayah layanan sex.
Ruas jalan kawasan Gorontalo hampir tidak perna sepih, pada siang hari melintas para tamu hotel sementara pada malam hari berkeliaran para hidung belang dari berbagai latar belakang mulai dari ojek, pekerja birokrasi, kontraktor, oknum Polisi, TNI, Buruh Kapal.
Tempat tempat hiburan malam yang menjual servis sex ini mendapat izin operasional secara resmi dari pihak Mahpolres Manggarai Barat dan terdaftar di kantor pariwisata. Ijinan berlaku selama 3 bulan kemudian dapat diperpanjang untuk 3 bulan berikutnya.
Dalam ijinan yang dikeluarkan secara resmi tersebut para pemilik hiburan dilarang menjual layanan sex namun kenyataannya tidak demikian. Bukan menjadi sebuah rahasia lagi papan nama tempat hiburan malam ini hanya kamuflase yang menyembunyikan praktek prostitusi besar besaran. Tempat Hiburan seperti, Santigi Karoke di wilayah Pasar baru, Pede Indah Kafe di kawasan pantai Pede, Dragon Bar and Karoke, Jayagiri Diskotik, Golontalo Beach Karoke, Mawar Jingga Kafe, Sasando Karoke, Komodo Karoke, Borgenfil Restauran and Karoke, Puri Asih PUB and karoke adalah deretan tempat hiburan malam yang menjual layanan sex.
Beberapa diantaranya milik oknum aparat keamanan dan Legislatif. Sasando Bar milik anggota DPRD Manggarai Barat, sementara Puri Asih karoke, Borgenfil karoke dan Santigi Karoke masing masing milik oknum kepolisian Polres Manggarai Barat
Pelacur di kawasan Gorontalo termasuk pelacur kelas bawah dengan tarif 150 ribu hingga 300 ribu rupiah untuk sekali kencan atau short time. Sementara untuk bokingan tarifnya berkisar 500 ribu hingga 1 juta. Para pelacur ini biasanya didatangkan dari Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Bayuwanggi, Jember Jawa Timur, Bandung, Bogor, Manado dan Jakarta.
Masing masing Tempat hiburan memiliki jaringan khusus untuk mendatangkan para pelacur. Untuk menjaga pelanggan biasanya setiap tempat hiburan malam saling menukar pelacur, ini agar menimbulkan kesan “anak Baru”. Para pelacur asal luar daerah mengaku lebih suka “ngetem” di Labuan Bajo, mungkin saja tarif kecan lebih tinggi ketimbang di daerah sebelumnya seperti surabaya, Jakarta, Bandung, Bali dan beberapa kota lain yang hanya dihargai 25 ribu hingga 50 ribu untuk sekali kencan.
Jelajah Tempat Pelacuran
Akhir Juli 2010, aku menyelusuri satu demi satu tempat hiburan malam di wilayah pasar baru maupun Gorontalo Labuan Bajo. Malam itu seperti biasa PLN kembali memadamkan listrik, yang membuatku ingin keluar rumah. Menyelusuri Jalan Dalu Bintang Waemata hingga Santigi Karoke tempat petualangan pertamaku malam itu. Jaraknya tak Jauh dari rumahku sekitar 700 meter. Santigi Karoke tepat ditengah pemukiman warga pertamina desa Gorontalo.
Santigi Karoke nampak sepi, tempat hibuaran ini hanya diteranggi lilin yang ditempatkan di sisi ruangan. Di dalam ruangan beberapa pelacur sedang asik memainkan Handphone sementara sebagian asik duduk duduk dihalaman depan sambil membakar beberapa potongan kayu. “malam om, listrik mati didalam sedikit gelap” sapa seorang pelacur yang mengenakan pakian supermini. Dadanya nampak belahan seperti katepel. Saya dipersilakahkan duduk di sebuah kursi kayu.
“Mau minum, ya hitung hitung sambil nunggu listrik menyala” ajaknya lagi dengan sorot mata mengoda.
“oh..boleh, tapi kamu temanin ya” jawabku.
“ya iyalah om, masa tamunya ditingalin” Pelacur yang mengaku bernama Lastri itupun beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah belakang Gedung itu.
Tak lama berselang, dua botol Bir yang sudah dalam kadaan terbuka berada didepanku. Selain Bir Lastri juga membawa dua bungkus rokok, masing masing Sampurna dan Malboro, Sebungkus rokok soempurna diberikannya padaku sementara sebungkus malboro putih diselipkannya diantara buah dada-nya, ku perkirakan sebesar dua gengam tangan orang dewasa. “ini untuk besok malam om” cetus Lastri.
Untuk 1 Botol Bir ditempat ini di jual seharga 45 ribu, sementara semua jenis rokok dijual dengan harga 20 ribu. Malam itu saya harus mengeluarkan 130 ribu. Listrik baru akan menyala jam 11 malam, jadi aku punya banyak waktu bersama Lastri.
Lastri berparas cantik, kulitnya putih, berbadan seksi, tinggi diperkirakan 168 cm, dengan ukuran buah dada lebih besar. Hal ini mungkin membuat perempuan 25 tahun ini menjadi primadona di tempat ini.
Malam itu Lastri menolak untuk di foto, namun tidak keberatan bercurhat. Pelacur asal surabaya ini mulai melacur di santigi Karoke sejak tahun 2008, berawal diajak teman yang sudah bekerja ditempat itu. “saya bertemu di Bali dan diajak ke labuan bajo, ya katanya disini lebih baik rejekinya” katanya sambil terus mengisap rokok Malboro putih kesukaan-nya.
“tapi sama saja, tetap mami (Mujikari-red) yang untung. Kami tidak digaji, kami mendapat uang dari bokingan kamar saja, tapi harus dibagi juga ke mami” ungkpanya
Lastri mengaku tarifnya untuk sekali kecan Short Time berkisar antara 200 ribu hingga 500 ribu rupiah. Untuk layanan kecan short time biasanya dilakukan di tempat yang sama, di kamar kamar pelacur yang terletak dibagian depan bangunan itu. Ukurannya tidak lebih dari 2 X 2 Meter dengan satu tempat tidur kayu dan satu buah Lemari setinggi 1 meter. “Setiap kali masuk kamar (kencan-red) saya harus membayar 50 ribu kepada Mami, sebagai sewa kamar” Ungkapnya.
Pelacur ditempat ini juga bisa diajak kecan ke Hotel. Kata Lastri biaya kecan bisa mencapai 1 juta hingga 1,5 juta, dari tarif kencan pelacur harus membayar uang Cas ke Mami sebesar 300 ribu. “Kalau ke Hotel ya biasa dari jam 9 Malam hingga pagi. Mami kebagian jatah uang cas 300 ribu” Terangnya.
**
Listrik akhirnya menyala, Lagu dangdut memecahkan kesunyian diruangan itu. Minumanku belum habis, kamipun pindah kedalam ruangan karoke, sayang kecangnya suara musik membuatku tak bisa bertanya banyak pada Lastri.
Aku ditawari menyanyikan 3 lagu, ini menjadi tradisi ditempat ini setiap tamu memiliki jatah mendendangkan 3 buah lagu sebelum mic dipindahkan ke tamu lain. Saya memilih lagu pop berjudul si anggrek hitam yang di populerkan Lola Drakel dan satu buah lagu barat Paint My Love milik MLTR.
“suara sampean bagus” Puji Lastri sambil merebahkan kepalanya tepat di Bahuku.
“Ah Biasa aja” jawabku.
Lagu dangdut campur sari Remix kemudian mengalun, seorang pelacur mengenakan kaos hitam tak berlengan, kaosnya hanya menutupi bagian dada hingga sedikit bagian pusar serta rok levis mini yang hanya menutup bagian pantatnya berlengok mengikuti irama lagu. Ia terus berlengok ke kiri, memutar, sesekali ia mengelus elus pinggang hingga dada sambil menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Rambutnya yang panjang pun bergerak berlawanan gerak kepalanya. Rekan pelacur-nya memberikan tepuk tangan dan sedikit teriak histeris terutama saat saat gerkana erotis yang dipertontonkannya.
Tak seberapa lama berselang tiga orang tamu masuk ke ruangan karaoke. Kedatangan mereka langsung disambut 2 orang pelacur. Dipersilakan duduk persis bersebelahan denganku. Pelacur yang tadinya bergoyang bak Inul Daratista lantas masuk ke ruangan kasir kemudian membawa 5 buah bir dingin dan 4 buah gelas Bir. Bir dituangkan kedalam masing masing gelas, tiga buah gelas pertama di persembahkan ke tiga orang tamu sementara 2 gelas lain untuk 2 pelacur yang duduk diantara tamu.
Mataku terus tertuju pada meja disebelahku. Memperhatikan sikap manja para pelacur. “Mereka itu sudah langganan Sri dan Amel” Kata Lastri. Saya merasakan Lastri terganggu dengan sikapku yang terus memandang tingkah 3 laki-laki dan 2 pelacur disebelahku. “Mas Kok dari tadi perhatiin mereka terus. Apa aku kurang genit ya” cetusnya meminta perhatianku.
Salah satu tamu tadi menyanyikan sebuah lagu dari Pance Pondaag, suaranya kacau, seumur hidupku baru kali ini aku mendengarkan orang menyanyi dengan sangat buruk. Nada nada tinggi khas Pance dalam lagi itu dinyanyikan rendah dan sesuka hati. Beberapa kali aku protes “itu salah, ah..seharusnya naik satu ketukan lagi…” namun aku sadar saat ini sedang dalam tempat pelacuran yang berkedok karaoke. Bernyanyi dengan benar ditempat ini tidak diwajibkan, yang penting pelayanan yang didapat, bernyanyi sambil berpelukan, meneguk bir dan mendapatkan pelayanan sex.
2 Botol Bir Bintang dan satu buah Rokok Sampoerna tiba tiba saja diletakkan di mejaku, padahal aku tidak memesannya.
“ini dari Bos, Untuk mas. Katanya special, Gratis kok” jelas Lastri sambil menuangkan bir ke dalam gelas.
“ Silakan Mas” lanjutnya.
“Apa kabar, Pa” sudah dari tadi? Sendiri-kah?”. Bos Yang dijelaskan Lastri menghampiriku. Hemm Rupanya dia seorang oknum Polisi pemilik tempat Santigi Karoke yang berinisial FM
“Sudah om, sejak Listrik Mati. Sendirian saja” jawabku
“Nyanyi kah?. Mau Lagu apa” tawar FM.
FM kemudian menuju meja DJ. Tak tahu apa yang dikatakan FM, terihat DJ hanya menganggukan kepala.
“saya sudah omong DJ-nya, silakan pesan lagu kesukaannya Pak” ajak FM
“ya, Om. Terima kasih” Jawabku
Ku terus perhatikan FM, Wajahnya menujukkan kekuatiran dengan keberadaanku di tempat itu. Padahal aku bukan pejabat pemerintah yang datang memeriksa ijin operasi, bukan penarik pajak, aku juga bukan atasannya. Mungkin saja pekerjaanku sebagai Jurnalis membuatnya agak gugup. Untung saja Lastri tidak mengenaliku sehingga tanpa ragu menjawab semua pertanyaanku.
Sebotol Bir terakhir tak kuhabiskan. Kuberikan pada Lastri. FM ternyata melihatku hendak pamit ia kemudian menghampiriku.
“sudah Pa, tidak usah dibayar. Pa juga bukan siapa siapa. Santai saja” Pinta FM.
“aduh Om tidak enak jadinya”
“tidak apa apa lah, tidak seberapa juga kok. Jangan dipikirkan” ujarnya
Akupun keluar dari ruangan karaoke itu, Lastri ikut mengantarku ke Pintu depan. Kuberikan uang tip sebesar 50 ribu untuknya.
“kapan kapan datang lagi ya mas. Kita masuk kamar atau ke Hotel” ajaknya manja
Telusur Dunia SEX Labuan Bajo (Bagian 3)
Jelajah Tempat Pelacuran
Sambungan dari Bagian ke 2
Angin malam kian menujuk sumsum tulangku, ruas jalan Pasar Inpres Gorontalo-PLN nampak sepi, hanya beberapa pedagang di sekitar pasar sedang duduk duduk main kartu sembari menunggu air PDAM yang sudah seminggu tidak mengalir di wilayah itu. Hanya satu dua kendaraan bermotor melintas. Ditepi jalan dua ekor anjing mengais ngais sampah yang sudah 3 hari bertumpuk tak diangkut petugas sampah. Hampir pukul 00.00, gongganan anjing serta segerobolan Kambing yang dibiarkan berkeliaran bebas menyaksikan petualanganku menyusuri kawasan gorontalo.
Tepat didepan Dragon Pub and Karoke kawasan Pede, sangat ramai, di halaman depan nampak beberapa sepeda motor saja. “Parkir di belakang saja om” pinta security. Halaman belakang tempat hiburan ini penuh kendaraan. Ku parkirkan motorku persis di bawah sebuah pohon kecil. Kupikir akan sedikit lebih aman dari tetesan embun.
Dari halaman belakang terlihat kamar berjejeran, yang ukurannya hampir sama dengan kamar kost kossan. Beberapa saat ku memilih duduk duduk diatas sadel motorku, mencari inspirasi untuk mengali banyak informasi terkait tempat hiburan itu. Ku bakar sebatang rokok dan ku hisap dalam dalam, seorang laki laki hidung belang melintas di depanku, untung saja posisiku tak dapat dilihat, pohon tadi menghalau pandangan lelaki bertubuh kekar itu. Ia berdiri didepan sebuah pintu kamar paling pojok, ku coba perhatikan mungkin saja ku mengenalinya, namun perhatianku berpaling pada sosok pelacur berpakaian super ketat, muncul menghampiri sang lelaki tadi. Keduanya sempat berciuman lantas pelacur yang berambut pendek itu membukakan pintu dan keduanya masuk. “Hemmm..rupanya kamar kamar ini digunakan untuk kencan short time” Pikirku
Kraakkk….pintu kamar tengah terbuka, seorang laki laki keluar dari kamar. Pelacur bertubuh pendek badannya kurus rambutnya nampak kusut dan tubuhnya dibalut dengan kain kemudian menutup pintu kembali. Laki laki yang baru melakukan transaksi sex ini memperhatikan aku. Cepat cepat aku mematikan rokokku dan membuangnya, ku ambil satu batang rokok lagi, ku dekati dia dan berpura pura meminjam korek gas.
“kaka ada korek ko?”
“Hae…Mache, kau dengan sapa?.
Aku tersentak rupanya laki laki yang baru berkencan itu seorang kotraktor berinisial MT yang sangat ku kenal. Beberapa waktu sebelumnya dia mendapat sebuah proyek jembatan di kecamatan Komodo.
“Mari kita duduk di dalam”
“Iya kaka. Silakan kaka duluan”
“ole..kraeng e. Tenang sa, saya traktir” . ajaknya sambil menarik tanganku.
Ruangan karaoke dragon malam itu sangat penuh pengunjung, ada tujuh buah meja dan semuanya ditempati pengunjung. Aku duduk bersebelahan dengan seorang pelacur, wajahnya akrab denganku.
“ Hai..Abang ketemu lagi” sapanya
“ Ternyata Pa wartawan ini sering kesini juga ee” cetus MT
“Ketemu minggu lalu papi, di polres sewaktu kami ke sana ikut penyuluhan”
Aku memberikan senyuman kecil pada MT setelah pelacur tadi menyapanya dengan kata Papi, MT pun tersipu malu.
“Ayo minum, Nur tolong ambilkan satu gelas lagi”
“Kraeng..hidup ini jangan terlalu serius. Sante saja” cetus MT
Satu meja bersama MT juga ada seorang rekan kontraktornya, satu konsultan dan satu lagi seorang PNS di dinas PU. Aku merasakan ada perubahan pada prilaku pada ketiganya. Dua orang pelacur yang mengapiti ketiganya seolah tak dihiraukan. Pandanganku ku alihkan ke layar yang berada di bagian tengah ruangan itu.
Kunikmati Lagu How Can I tell her dari Lobo yang di nyanyikan meja nomor 2, di bagian depan layar karoke nampak 4 pasangan berdangsa tidak seperti cara berdangsa pesta orang manggarai yang perna kuikuti. Tangan pelacur melingkar di leher laki laki, sementara tangan laki laki melingkar dipingan pelacur, kedua tubuh mereka mendekap erat seperti lem buah mamis. Sangat erat melekat. Aksi ciumanpun sesekali dipertontonkan. Serasa sedang berada di Hollywood.
Pelacur bertubuh mungil dan nampak kusut yang kulihat di belakang tadi kini berubah tampilan, rambutnya rapi, pakaiannyapun berganti, aroma parfumnya menyengat di hidungku, MT menyambutnya dan Pelacur itupun menjadikan pahan MT sebagai tempatnya. MT tak mau kalah tanganya melingkar di pingang pelacur itu hingga ke bagian perut.
“Pi..mau lagi” Manjanya pada MT
“Yang tadi belum puas” jawab MT tak mau kalah
Jam di Hp ku menujukkan pukul 01.25 musik diputar mendayu, tak ada lagi karoke, hanya tersisa empat meja, canda tawa dan suara manja para pelacur terdengar mengalahkan suara musik. “hampir tutup mas, tapi tidak apa apa yang penting jangan karoke saja” jelas seorang pelacur ketika kutanya soal perubahan itu.
Dari jarak dekat, seorang laki laki berciuman mesrah dengan seorang pelacur, tangan laki laki itu picnik diseluruh tubuh pelacur, sementara sang pelacur memegang erat pingang sang hidung belang. Asik layak bintang Hollywood ini berlangsung lama menjadi totonanan menarik buat rekan pelacurnya juga aku. Hampir tak ada perasaan malu, silaturahmi bibir dan jari jemari itu mendapatkan teriakan histeris dan tepukkan tangan persis suasana penonton pertandingan piala dunia di afrika lalu. Ku terus perhatikan “pertandingan” dua bibir itu, namun ketika sang pelacur liar memainkan kemampuanya sang hidung belang malah menarik bibirnya, kemudian berbisik ke telinga kiri pelacur, nampak sang pelacur mengagukan kepala lantas keduanya menghilang dari ruangan karoke. “ ah paling mereka “masuk”. Begitulah kalo dah mabuk” kata Nur yang sejak tadi setia bersama sang kontraktor.
Bersambung..
Bunga (20) : Perawan direnggut Sang Pacar Kemudian Melacur
PUB and Karoke Mawar Jingga atau biasa sebut MJ sangat Ramai Pengunjung. MJ Berdampingan dengan rumah penduduk Gorontalo, mojok disudut sebuah lahan kosong, menuju tempat ini tidak mudah aku harus melewati kubangan panjang, menyelusuri rumah rumah warga. Sekalipun cukup sulit dijangkau MJ menjadi tempat Favorit, pasalnya ditempat ini banyak Pelacur berumur lebih mudah berkisar 18 hingga 23 tahunan.
Lahan kosong samping MJ penuh kendaraan, Motorku kupaksakan berdempetan dengan motor lain yang sudah duluan diparkirkan di tempat itu “Malam Pak, didalam semua meja penuh. Tapi kami punya kantin, kalau mau silakan beristrahat sejenak” sambut Security MJ. akupun tak keberatan dengan ajakan itu. Memesan minuman dingin lalu duduk dipojok kantin.
“Mereka pikir mereka siapa, lebih suci?, enak aja raba raba tetek orang” keluh seorang pelacur. Pelacur ini baru saja keluar dari ruangan karoke ngedumen lalu duduk disebelahku.
“Kenapa Mba. Ada masalah” tanyaku mencari tahu
“Itu lho Mas, Laki laki didalam, senaknya megang megang “punyaku”. Begitulah kalo dah mabuk”
“Saya sudah tegur tamunya. Sekarang kamu kembali kedalam lagi temani mereka” pinta security
Pelacur itupun kembali ke ruangan Karoke.
“Pak, sekarang sudah ada meja kosong satu, silakan masuk jika pingin minum dan karoke” Ajak Security.
Aku dihantar masuk dan dipersilakan duduk di sebuah meja nomor 2. Ruangan karokenya tidak begitu luas, dinding ruangan dilapisi karpet, mungkin saja berfungsi sebagai peredam suara, Lampu lampu kelap kelip menutar kesetiap sudut, sangat remang remang, Cahaya sedikit terbantu dari layar LCD yang berfungsi sebagai monitor lagu lagu karoke.
“selamat malam Mas. Sendirian saja” sapa seorang pelacur. Kami bersalaman
“Tanganmu halus bener” godaku
“ Ah..mas Bisa aja, sama saja semua laki laki juga bilang begitu” cetusnya
Aku pesan 2 Bir Bintang dan si pelacur yang memerkenalkan diri bernama Bunga meminta Bir Hitam. Lagu Kesukaanku, Nothing To Lose dari MLTR mengalun, dinyakikan seorang laki laki dimeja sebelahku.
“Dansa Yuuukk” ajak Bunga
Tangannya melingkar dileherku, Pandanganku hanya bisa ke arah kiri, sementara bunga ke arah kanan. Sangat dekat, jantungku berdebar kencang seolah mengiringgi syair syair Nothing To Lose.
“sudah berapa lama kamu disini” tanyaku samping bergerak ke kiri dan kanan mengikuti irama lagu.
“Dua Bulan” jawab bunga singkat
Dari jarak yang sangat dekat paras wajah bunga sangat cantik, putih, tinggi sekitar 165 cm. Malam itu Ia mengenakan gaun hingga 25 cm dari lututnya. Saat dia semakin mendekap melingkarkan kedua tangannya ke leherku, aku makin tak mampu bernafas bau parfum menyengat kepernafasanku.
“Ini perempuan madi air atau Parfum ya..”pikirku
Kurasakan irama dansa yang kami lakoni semakin jauh dari irama lagu Nothing to lose, Bunga selalu membuat gerakan “plus” hingga Dadaku bersentuhan dengan badannya. Kepalanya disandarkan pada dadaku, seolah mau merasakan detak jantungku yang sejak tadi susah payah aku menahannya agar tak berdetak kencang. Aroma Shampoo Dave tercium dari rambutnya menyengat ke pernafasanku.
“ Mas, Main yukk” Bisik Bunga lembut ke telinga kananku
“ Berapa”
“250 Ribu aja Mas”
“Ah mahal sekali” kataku sambil terus berdangsa
“Trus Situ mintanya berapa?” Bunga terus membangkitkan Hasratku
“100 Ribu. Gimana?”
“Ahh..kere bangat sih”
Tawar menawarpun sejenak terhenti. Kami kembali ke Meja. Baru beberapa tegukan Bir kunikmati Bunga kembali meneruskan tawaran transaksi.
“ Gimana tadi, mau nga, 250 Ribu?”
“Gini aja, 150 Ribu..yaa”
“Oke lah”
Bungapun setuju dengan tawaranku.
“Dimana?”
“Dikamarku”
Bunga mengajakku ke kamarnya, menelurusi gang kecil, melewati WC yang beraroma bauk busuk. Rupanya bagian belakang bangunan itu berjejer Kmar kamar pelacur yang juga berfungsi sebagai tempat layanan sex short time. Sebelum sampai pada kamar Bunga aku berpapasan dengan laki laki yang mungkin saja baru berkencan di sebuah kamar.
“Masuk Mas” ajak Bunga
Kamar Bunga tidak begitu luas, ku perkirakan 2×3 meter. Pada dindingnya terdapat gambar artis Julia Perez yang membusung dada.
“Fanss ama Jupe ya”
“Iya Mas, Teteknya bagus, seksi” jawab bunga sambil merapikan tempat tidurnya.
“Mana Duitnya” Bunga Meminta uang transaksi pra kecan
“Lho kok minta duluan”
“Iya Mas, aku takut, sering laki laki habis “main” langsung Kabur. Apa lagi kalo dah mabuk”
Ku buka dompetku dan kuberikan uang sebanyak 250 ribu
“Lho kok Banyak” tanya Bunga
“Gini, Aku bayar lebih. Aku mau kamu curhat soal hidupmu” . Kupakai istilah curhat pengganti kata wawancara. Pelacur di kawasan Gorontalo pada umumnya, “alergi” dengan kata wawancara.
Bunga rupanya Bunga tidak keberatan. Tak kusangka Bunga sangat Komunikatif, semua pertanyaanku dijawabnya tanpa ragu. Bunga mengabil rokokku membakar sebatang. Lalu ia mulai bercerita
“saya dari Jawa timur mas, saya kabur dari rumah. Orang saya tidak tahu kalau saya kerja seperti ini” ungkapnya.
Bunga anak sulung dari 3 bersaudara, ayah ibunya buruh. Ia melacur setelah pacar mengambil perawan Bunga. Bermula meneguk minuman keras di rumah sang pacar, saat Mabuk Pacarnya kemudian menyetubuhinya. Setelah hubungan pertama itu Bunga mengaku terus terusan melakukan hubungan badan dengan sang pacar. Hubungan haram ini dilakukan dirumah Bunga saat ayah ibunya pergi bekerja. Kadang kadang keduanya berkeliling kampung dengan sepeda motor hanya untuk mencari tempat nyaman untuk berhubungan sex. Meskipun keduanya sudah sering melakukan hubungan suami istri, Pacarnya kemudian berselingkuh dengan teman dekatnya. Bunga merasa sakit hati ditambah lagi ia berhenti sekolah saat masuki kelas 3 SMP, Kata Bunga kedua orang tuanya tak mampu lagi membiayai ia sekolah.
Hingga pada suatu hari Bunga bertemu dengan teman perempuan yang sudah 4 tahun bekerja sebagai pelacur di Doli surabaya. “saya sadar saya tidak perawan lagi, lagian ngapain saja dirumah” kata Bunga. Iapun mengikuti saran teman perempuannya itu ke Doli.
Di tempat pelacuran terbesar di asia itu Bunga tak perna sepi melayani Laki laki Hidung belang. Dalam semalam ia bisa melayani 3 hingga 5 orang laki laki dengan tarif 200 ribu hingga 250 ribu. Harga yang ditawarkan Bunga cukup wajar untuk ukuran pelacuran Doli, Bunga baru berumur 18 tahun dan baru melacur ditempat itu. 2 tahun hidupnya ia habiskan di tempat esek esek itu dan ia tak bisa menghitung berapa banyak laki laki yang sudah berhubungan sex dengannya. “Uang yang aku dapat ta kirim ke rumah mas. Untuk merehap rumah orang tuaku” katanya
Bunga mengetahui labuan bajo dari teman pelacurnya yang sama sepertinya perna bekerja di Doli. Mengikuti ajakan teman itu Bunga berani meningalkan pulau jawa.
“Bapa Ibu nga tahu aku disini, mereka hanya tahu aku kerja di Bali. Di restauran. Mereka juga tak pernah mencari tahu, dari penghasilanku setiap bulan aku selalu kirimkan ke orang tua di kampung” jelasnya.
Bunga tidak memperlakukan secara ketat tamunya untuk memakai kondom atau tidak semua pilihan diserahkan pada tamunya. Ia memang takut dengan berbagai penyakit menular seksual (PMS) atau HIV/AIDS, Namun semua kemungkinan itu tidak dipikirkannya. Dia menjalani saja setiap yang terjadi dan yang menimpa dirinya, bahkan Bunga kadang kadang menikmati hubungan seksual dengan para tamunya jika ia merasa pas dengan pasangan persetubuhannya itu. Kadang kadang dalam seminggu Bunga dapat menikmati hubungan seksual tersebut sampai puas sebanyak dua kali atau tiga kali. “Tergantung dari mood, apakah badan sedang fit atau tidak dan pada saat kita merasa suka sama suka atau tidak” Ujar Bunga
Pendapatan Bunga sejak bekerja di MJ mencapai 15 juta. Tarifnya untuk sekali kecan tak perna kurang dari 250 ribu. Bunga mengaku perna di boking oleh seorang kontraktor dari Ruteng selama seminggu di Hotel dengan tarif 700 ribu semalam plus 200 ribu cas buat “mami”. “Kalau musim proyek biasanya rame Mas, Kontraktor biasa boking berhari hari” ungkapnya.
Dalam HandPhone Bunga terdapat sejumlah nama yang hampir semuanya samaran. Beberapa Nomor sama dengan yang ada di Hpku, PNS di beberapa kantor dinas. “Oh ini..dia baik mas, sering kasih lebih, Dia jarang kesini, kalau Boking lewat SMS aja atau telepon” kata bunga menjawab pertanyaanku terkait beberapa nomor di Handphonenya.
Selain melayani 3 hingga 6 laki laki dalam semalam bunga mengaku juga memiliki pacar di Labun Bajo. “Katanya dia Pegawai disini, dan saya tahu sudah beristri” jelasnya.
Disela sela melayani tamunya, Bungapun dengan senang hati melayani sang pacar baik siang, sore maupun malam hari. Menurut dia selama melakukan hubungan sex dengan pacarnya, ia melakukannya dengan sepenuh hati sehingga mendapat kepuasan seksual layaknya suami istri.
Secara terus terang Bunga lelah dengan pekerjaannya, Ia ingin menikah dan hidup berumah tangga. Sejak kecil dirinya sering salat dan membaca al-Qur’an Bahkan pernah belajar membaca kitab kitab gundul (kitab Klasik yang menjadi tradisi umat Islam di Indonesia Khususnya Nahdlatul Ulama) disebuah pesantren di Jawa Timur. Sejak di Doli dan Labuan Bajo ia tak lagi melakukan itu meskipun selalu mengingatnya. Bunga ragu ragu melaksanakan Salat, sebab dia merasa sedang berada di sebuah kubangan dosa.
Telusur Dunia SEX Labuan Bajo (Bagian ke 5)
Dunia Pelacuran hingga kapapun akan selalu menarik untuk terus ditelusuri. Tidak hanya persoalan pelacur tapi juga sisi lain seperti perdagangan manusia, kemiskinan, korban kekerasan, korban perceraian, Broken home dan persoalan sosial lain yang juga erat dengan dunia pelacuran. Dunia pelacuran tidak hanya terdapat di perkotaan namun kini merambah wilayah pedalaman hingga desa desa. Hal inilah yang mendorong saya melakukan sebuah studi prostitusi secara teoritis bertolak dari peranan psikososial terhadap prilaku moral yang ditemukan william M. Kurtines
Dalam teorinya Kutines mengatakan individu merupakan suatu badan moral yang tindakan dan keputusannya berlangsung dalam suatu konteks sistim aturan dan peranan yang ditentukan secara sosial. (Kurtines; 1992:511)
Pantai Pijat Kawasan Gorontalo
Pesisir Pantai Gorontalo ds. Gorontalo kecamatan Komodo, Kab. Mangarai Barat terlihat kumuh disiang hari namun ketika matahari terbenam kawasan ini berubah menjadi “surga” kecil. Apapun yang ingin Anda lakukan sesuai hasrat Anda, semuanya ada di Kota ini, asalkan Anda punya kepeng alias Doi. Selain Pub dan Karoke kawasan ini juga punya Pantai Pijat.
Salah satu yang terkenal adalah DEWI Massage. Para pemijat tentu berpenampialn cantik dan menarik. Setiap kali melayani tamunya si pemijat mengenakan baju seksi hingga dadanya nampak seperti katepel, serta rok supermini. Pokoknya mantap abiss…
Dewi Massage tempat Pijat yang biasa – biasa saja, tapi dengan service yang luar biasa yang memiliki metode penguasaan skill yang lebih profesional. Selain badan jadi enak dipijat memulihkan otot otot yang tegang, juga melemaskan otot lainnya, dan bisa membuat batin menikmatinya ;).
Pijatan DEWI Massage lebih halus dan sopan, tapi metodenya tersamar. Biasanya setelah membuka baju dan celana, tinggal pakai Celana Dalam, penikmat pijatan langsung tidur telungkup. Si Pemijat mulai memijat pelan – pelan dengan tekanan – tekanan yang lembut dari telapak kaki sampai ke paha, selanjutnya ditawari mau pakai cream atau tidak. Kalau Si Pengunjung lagi pengin dipijat bugil, tinggal bilang aja, “Mbak, ntar creamnya kena celana doonkkk”, biasanya dia akan bilang, “Oohhh, klo gitu dibuka aja, ga apa-apa kok…”
Setelah mencopot Celana Dalam, Pemijat yang berpengalaman sudah tahu persis keinginan Customer nya, akan memulai tekhnik memijat dari telapak kaki sampai sekitar paha dan pantat, dengan sedikit menyenggol – nyenggol selangkangan untuk memancing Syahwat. Hal ini dilakukan secara konsisten dengan sedikit memanipulasi perilaku. Setelah selesai pijat, dengan nada dan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja dan pura – pura lugu, Pemijat akan nanya, “Udah selesai, Mas. Ada yang masih kurang gak?” Nah, ini adalah pertanyaan memancing, apakah Anda mau di service lebih atau tidak.
Biasanya kalau tamunya udah nepsong, si Pemijat akan langsung menawarkan mau ML ditempat atau pijat selangkangan aja, dan tawar menawar harga sampai dengan eksekusi dilakukan ditempat yang sama hehehe..
Harganya bervariasi berkisar 250 ribu hingga 500 ribu. Biasanya setelah dipijat Customer enggan meningalkan si pemijat begitu saja..
Prostitusi di wilayah ini kian marak, Kriminalitaspun meningkat. Terakhir kasus polisi tembak polisi, diduga setelah mabuk mabukan di Pub dan Karoke Puri Asih. Selain Karoke Puri Asih atau yang dikenal dengan nama PUB PUTU juga menjual servis sex Short time.
Para Pelaku wisata menentang keras Menjamurnya Pub Dan Karoke di wilayah ini sebagai akibat dari pertumbuhan Pariwisata. Menurut Wakil Ketua Forum Pariwisata Mabar, Arie Marius Saridin, Praktek Prostitusi ini lebih banyak di “jamah” warga Lokal. Ketua PHRI Mabar, Silvester Wanggel, menuding maraknya PUB dan Karoke di kawasan Gorontalo justru menganggu pertumbuhan pariwisata di wilayah tersebut.
