Sejarah Singkat Dewan Adat Bate Salapang Kerajaan Gowa

1 min read

Bate Salapang adalah dewan adat yang menjadi penasehat Kesultanan Gowa khususnya raja Gowa yakni Sombayya ri Gowa dalam mengambil kebijakan. Bate Salapang adalah simbol demokrasi yang diterapkan di Gowa dimana Sembila tokoh dari 9 Kasuwiyang di Gowa yang ikut dalam mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan rakyat Gowa.

A. Peran Bate Salapang

Sebelum terbentuknya Kerajaan Gowa, di wilayah ini berkuasa 9 kerajaan keci yang disebut sebagai Kasuwiang. Perang saudara antara 9 kerajaan ini membuat setia tetua dari masing-masing dewan adat mencari solusi agar tidak semakin parah.

Maka dipiliha satu orang raja yang harusnya memipin 9 kerajaan ini secara damai. Dari kekhawatiran ini Batara mendengar doa para Bate Salapang ini dan turunlah Tumanurung.

Sehingga ketika dengan hadirnya Tumanurung, ke sembilan federasi (kasuwiang) ini kemudian serentak bersama-sama memaklumatkan diri dan rakyatnya untuk mengangkat Tumanurung Bainea sebagai Raja (Sombaya) di Gowa.

Dewan adat Bate Salapang dari masa kemasa sering mengalamai perubahan, hal ini disebabkan oleh sebuah kejadian dan atau karena pola politik kerajaan gowa saat itu. Seperti yang terjadi pada tahun 1565 ketika Raja Gowa XI “Karaeng Tunibatta” gugur dalam perang Bone yang mengakibatkan dipecatnya sebagian Bate Salapang atas kelalaian mereka pada perang yang menewaskan sang Raja.

Bate Salapang yang di pecat saat itu adalah Gallarang Batua, Gallarang Pampang, dan Gallarang Tamammangung. para Gallarang yang dipecat itu lalu kemudian di gantikan oleh Gallarang Sudiang, Karaeng Borisallo dan Karaeng Manuju selaku anggota Bate Salapang yang baru.

Anggota-anggota Bate Salapang juga pernah dibagi menjadi 3 (tiga) Kelompok, kelompok yang pertama adalah Gowa i Lau’ atau Gowa Barat yang wilayahnya meliputi Gallarang Saumata, Gallarang Tombolo, dan Gallarang Mangasa. Kelompok yang kedua adalah Gowa Tangnga (Gowa Tengah) dengan wilayah yang meliputi Karaeng Pattallassang, Gallarang Paccellekang dan Gallarang Bontomanai. Dan yang ketiga adalah Gowa i Raya atau Gowa Timur yang meliputi wilayah Gallarang Sudiang, Karaeng Borisallo dan Karaeng Manuju.

Tercatat juga di dalam sejarah bahwa pada tahun 1894 ketika I Mallingkaang Sultan Idris menjabat sebagai Raja Gowa XXXIII, saat itu terjadi perjanjian antara Kerajaan Gowa dan Belanda. dimana di dalam perjanjian itu turut pula di tanda tangani oleh dewan adat Bate Salapang yaitu : Gallarang Mangasa, Gallarang Tombolo, Gallarang Saumata, Gallarang Bontomanai, Gallarang Camba, Gallarang Sudiang, Gallarang Paccellekang, Karaeng Gantarang, dan Karaeng Pattallassang.

Kemudian pada tahun 1900 san, dewan adat Bate Salapang kembali berubah dan di tetapkan menjadi wilayah yang meliputi : Gallarang Mangasa, Gallarang Tombolo, Gallarang Saumata, Gallarang Sudiang, Gallarang Paccellekang, Gallarang Bontomanai, Karaeng Pattallassang, Karaeng Manuju dan Karaeng Borisallo.

Tidak lama kemudian, Tumailalang Towa kembali memisahkan sebagian besar wilayah Saumata dengan menambahkan satu wilayah distrik tersendiri yang diberi nama Borongloe, di daerah ini juga di kepalai oleh seorang Gallarang yang bergelar Gallarang Borongloe dan berkuasa penuh atas wilayah tersebut.

Gallarang Borongloe juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan dalam wilayah kerajaan gowa saat itu meskipun Borongloe tidak masuk dalam kelompok Bate Salapang.

Demikianlah sejarah singkat dewan adat Bate Salapang dari masa ke masa, semoga dapat menjadi manfaat untuk mengetahui sejarah bate salapang kerajaan gowa di masa lampau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *