Makalah Pengembangan Karir SPG

Dzargon – Berikut ini adalah penelitian singkat yang disajikan bentuk Makalah Pengembangan Karir SPG. Penelitian ini dilakukan dengan subjek SPG Otomotif.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemasaran suatu produk memerlukan beberapa aktivitas yang melibatkan berbagai sumber daya. Sebagai fenomena yang berkembang saat ini, dalam pemasaran terdapat suatu bagian yang memiliki keterkaitan langsung dengan konsumen, yaitu pada bagian sales product. Bagian ini terdiri dari beberapa divisi, terutama yang berkaitan dengan sistem pemasaran yang dilakukan suatu pemasaran.

Sebagai tenaga sales product, saat ini terdapat bagian pemasaran langsung yang menawarkan produk maupun sample product. Bagian ini biasanya dikenal sebagai sales promotion, dan karena adanya karakter gender maka terdapat sales promotion girls dan sales promotion boys.

Seorang SPG harus pandai berkomunikasi dengan pembeli atau pelanggan (customer) agar ia memberikan respon positif pada produk yang kita tawarkan. Ramah, murah senyum, lembut, sabar, sopan dan menjaga emosi, itulah karakter dasar yang harus diterapkan pada seorang SPG. Mengapa  menjaga emosi juga harus diterapkan? Karena customer yang akan dihadapi sangat beraneka ragam. Mulai dari customer yang baik, lembut, cerewet, hingga super judes. Penawaran produk biasa dilakukan dengan cara mobile atau berkeliling di wilayah event yang sedang diadakan.

Terkadang ada beberapa SPG nakal yang mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar, SPG yang terbawa arus pergaulan bebas. SPG yang seperti inilah yang membuat citra para SPG lainnya menjadi buruk dan dipandang rendah. Tapi tidak semua SPG seperti itu, ada SPG yang tidak pernah melupakan kewajibannya untuk sholat, jujur dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya.

Pada penelitian ini akan dilakukan suatu analisis terhadap jenjang karir profesi SPG (Sales promotion Girl) Otomotif ( motor )

B. Rumusan Masalah

Adapun identifikasi masalah dari penelitian ini adalah :

  1. Apa sajakah kemampuan yang harus dimiliki untuk menjadi seorang SPG otomotif?
  2. Bagaimana sistem ketenaga kerjaan SPG otomotif
  3. Apa sajakah manfaat yang diperoleh mereka selama menjadi SPG otomotif
  4. Bagaimana jenjang karier yang diharapkan sebagai SPG otomotif
  5. Faktor apakah yang membuat mereka ingin bekerja sebagai SPG otomotif

1.3  Tujuan

Adapun identifikasi masalah dari penelitian ini adalah :

  1. mengetahui kemampuan yang harus dimiliki untuk menjadi seorang SPG otomotif
  2. mengetahui sistem ketenaga kerjaan SPG otomotif
  3. mengetahui manfaat yang diperoleh mereka selama menjadi SPG otomotif
  4. mengetahui jenjang karier yang diharapkan sebagai SPG otomotif
  5. mengetahui Faktor yang membuat mereka ingin bekerja sebagai SPG otomotif

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Management Karier

Manajemen karir mencakup berbagai konsep yang sampai saat ini masih sering diperdebatkan definisinya. Meskipun demikian kita perlu mengetahui dan memahami definisi berbagai konsep yang berhubungan dengan manajemen kerier, agar kita mamiliki pemahaman yang lebih baik tentang manajemen karir. Dalam hal ini, ada beberapa kata kunci yang perlu dijelaskan, yaitu :

1. Karir

Para pakar lebih sering mendefinisikan karir sebagai proses suatu konsep yang tidak statis dan final. Mereka cenderung mendefinisikan karir sebagai “perjalanan pekerjaan seorang pegawai di dalam organisasi”. Perjalanan ini dimulai sejak ia diterima sebagai pegawai baru, dan berakhir pada saat ia tidak bekerja lagi dalam organisasi tersebut.

Haneman et al. (1983) mengatakan bahwa “Perjalanan karir seorang pegawai dimulai pada saat ia menerima pekerjaan di suatu organisasi. Perjalanan karir ini mungkin akan berlangsung beberapa jam saja atau beberapa hari, atau mungkin berlanjut sampai 30 atau 40 tahun kemudian. Perjalanan karir ini mungkin berlangsung di satu pekerjaan di satu lokasi, atau melibatkan serentetan pekerjaan yang tersebar di seluruh negeri atau bahkan di seluruh dunia”.

Konsep karir adalah konsep yang netral (tidak berkonotasi positif atau negatif). Karena itu karir ada yang baik, ada pula karir yang buruk. Ada perjalanan karir yang lambat, ada pula yang cepat. Tetapi, tentu saja semua orang mendambakan memiliki karir yang baik dan bila mungkin bergulir dengan cepat.
Karir dapat diletakkan dalam konteks organisasi secara formal, tetapi karir dapat pula diletakkan dalam konteks yang lebih longgar dan tidak formal. Dalam kaitan arti yang terakhir ini, kita biasa mengatakan, misalnya, “karir si A sebagai pelukis cukup baik” dan si B mengakhiri karirnya di bidang politik secara baik”, dan sebagainya.

Apapun artinya, karir amatlah penting bagi pegawai maupun bagi organisasi. Menurut Walker (1980), bagi pegawai, karir bahkan dianggap lebih penting dari pada pekerjaan itu sendiri. Seorang pegawai bisa meninggalkan pekerjaannya jika merasa prospek keriernya buruk. Sebaliknya, pegawai mungkin akan tetap rela bekerja di pekerjaan yang tidak disukainya asal ia tahu ia mempunyai prospek cerah dalam karirnya.

Sebaliknya, bagi organisasi, kejelasan perencanaan dan pengembangan karir pegawai akan membawa manfaat langsung terhadap efisiensi manajemen. Dikemukakan oleh Walker (1980) bahwa turn over pegawai cenderung lebih kecil di perusahaan-perusahaan yang sangat memperhatikan pengembangan karir pegawainya. Di samping itu, penanganan karir yang baik oleh organisasi akan mengurangi tingkah frustasi yang dialami oleh pegawai serta meningkatkan motivasi kerja mereka. Oleh karena itu, manajemen karir bukan hanya menjadi kewajiban bagi organisasi, tetapi juga merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

2. Jalur Karir

Jalur karir adalah pola urutan pekerjaan (Pattern of Work Sequence) yang harus dilalui pegawai untuk mencapai suatu tujuan karir. Tersirat di sini, jalur karir selalu bersifat formal, dan ditentukan oleh organisasi (bukan oleh pegawai).

Jalur karir selalu bersifat ideal dan normatif. Artinya dengan asumsi setiap pegawai mempunyai kesempatan yang sama dengan pegawai lain, maka setiap pegawai mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tujuan karir tertentu. Meskipun demikian, kenyataan sehari-hari tidak selalu ideal seperti ini. Ada pegawai yang bagus karirnya, ada pula pegawai yang mempunyai karir buruk meskipun prestasi kerja yang ditunjukkannya bagus.

Dalam organisasi yang baik dan mapan, jalur karir pegawai selalu jelas dan eksplisit, baik titik-titik karir yang dilalui maupun persyaratan yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan karir tertentu. Di lingkungan pegawai negeri, misalnya, dikenal jalur karir sruktural dan fungsional. Seorang dosen di perguruan tinggi, sebagai ilustrasi, boleh meniti karir di bidang struktural, boleh juga di bidang fungsional. Secara struktural, ia boleh menjadikan ketua jurusan, ketua program, pembantu dekan, dekan, pembantu rektor, dan bahkan rektor.

Namun, kalaupun ia tidak menuduki jabatan struktural tertentu, dosen tersebut masih mempunyai kesempatan untuk meniti karir di jalur fungsional, dari Asisten Ahli sampai ke tingkat tertinggi yaitu Guru Besar. Dalam hal ini, persyaratan untuk naik ke jabatan struktural tertentu atau ke jenjang fungsional tertentu telah ditentukan dengan jelas dan bahkan dilengkapi dengan ukuran-ukuran kuantitatif (cumulativ credit point, CCP).

3. Tujuan Karir

Tujuan atau sasaran karir adalah posisi atau jabatan tertentu yang dapat dicapai oleh seorang pegawai bila yang bersangkutan memenuhi semua syarat dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan jabatan tersebut.

Yang penting dicatat, tujuan atau sasaran karir tidak otomatis tercapai bila seorang pegawai memenuhi semua syarat yang harus dipenuhi. Misalnya seorang kepala subagian tidak otomatis menjadi kepala bagian meskipun ia telah memenuhi syarat untuk menjadi kepala bagian. Untuk menjadi kepala bagian, ia harus memenuhi syarat-syarat yang seringkali di luar kekuasaannya, misalnya ada tidaknya lowongan jabatan kepala bagian, keputusan dan preferensi pimpinan, adanya kandidat lain yang sama kualitasnya, dan sebagainya.

4. Perencanaan Karir

Perencanaan karir adalah salah satu fungsi manajemen karir. Perencanaan karir adalah perencanaan yang dilakukan baik oleh individu pegawai maupun oleh organisasi berkenaan dengan karir pegawai, terutama mengenai persiapan yang harus dipenuhi seorang pegawai untuk mencapai tujuan karir tertentu.

5. Pengembangan Karir

Pengembangan karir adalah salah satu fungsi manajemen karir. Pengembangan karir adalah proses mengidentifikasi potensi karir pegawai, dan materi serta menerapkan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan potensi tersebut.

Secara umum, proses pengembangan karir dimulai dengan mengevaluasi kinerja pegawai. Proses ini lazim disebut sebagai penilaian kinerja (performance appraisal). Dari hasil penelitian kinerja ini kita mendapatkan masukan yang menggambarkan profil kemampuan pegawai (baik potensinya maupun kinerja aktualnya). Dari masukan inilah kita mengidentifikasi berbagai metode untuk mengembangkan potensi yang bersangkutan.

6. Manajemen Karir

Manajemen karir adalah proses pengelolaan karir pegawai yang meliputi tahapan kegiatan perencanaan karir, pengembangan dan konseling karir, serta pengambilan keputusan karir.
Manajemen karir melibatkan semua pihak termasuk pegawai yang bersangkutan dengan unit tempat si pegawai bekerja, dan organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu manajemen karir mencakup area kegiatan yang sangat luas.

7. Konseling Karir

Konseling karir adalah proses mengidentifikasi masalah-masalah yang berhubungan dengan karir seorang pegawai serta mencari alternatif jalan keluar dari berbagai masalah tersebut. Dalam organisasi, terdapat berbagai masalah yang berhubungan dengan karir pegawai. Ada yang tidak terlampau serius sehingga dapat dipecahkan dalam tempo relatif cepat.

Ada pula yang sangat serius sehingga mengganggu pekerjaan si pegawai sendiri maupun pekerjaan rekan sekerja lainnya. Dalam keadaan seperti ini, konseling karir sangat diperlukan, baik oleh pegawai maupun oleh organisasi. Bahkan organisasi yang cukup besar seringkali merasa perlu mempekerjakan seorang pakar (konselor) yang khusus menangani masalah-masalah karir ini.

BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Pendekatan dalam penelitian ini adalah peneltiain deskriptif kuantitatif dengan metode Penelitian yang digunakan adalah Survey.

Metode untuk pengmabilan data ini dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang objeknya merupakan SPG Otomotif yang sedang pameran di sebuah mal-mal.

A. Subjek Penelitian

Subjek Penelitian dalam penelitian adalah 20 Orang SPG Otomotif yang ada di Pameran Otomotif

B. KUISIONER

Responden yang terhormat, kami adalah mahasiswa Universitas Narotama Surabaya Program Management yang sedang mengadakan penelitian tentang jenjang karier Anda sebagai SPG saat ini. Dengan ini kami mohon kerja samanya dengan mengisi kuisioner kami sebagai berikut :

Nama                             : ……………………………………
Umur                             : ……………………………………
Pendidikan Terakhir      : ……………………………………
Pekerjaan                       : …………………………………..

  1. Berapa lama bekerja menjadi SPG di Perusahaan Anda?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  2. Sebutkan pengalaman kerja Anda menjadi SPG apa saja?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  3. Perlukah SPG mengusai product knowledge?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  4. Bagaimana rencana untuk jenjang karier Anda kedepan?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  5. Adakah kejelasan jenjang karier pada pekerjaan Anda sekarang?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  6. Apakah gaji saat ini yang diterima sesuai dengan yang diharapkan?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  7. Apakah pekerjaan Anda saat ini menggunakan system kontrak?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Terima kasih banyak atas partisipasi Anda telah meluangkan waktu untuk mengisi kuisioner ini

Dari kuisioner sebanyak 20 lembar yang kami sebarkan kepada Responden maka mendapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 3.1 Distribusi Usia Responden

NoUsiaJumlah (orang)
1<20 tahun3
2>20 tahun15
3>30tahun2
 Total20

Dari hasil tabel diatas maka dapat disimpulkan bahwa untuk usia SPG otomotif yang produktif adalah lebih dari 20 tahun dan tidak sampai melebihi 30 tahun.

Tabel 3.2 Distribusi Jenjang Pendidikan

NoPendidikan terakhirJumlah (orang)
1SD
2SLTP/ Sederajat
3SLTA/ Sederajat12
4Diploma/ Akademi
5Sarjana Strata 1 (S1)8
 Total20

Dari tabel diatas pendidikan terakhir untuk SPG Otomitif 12 orang yang lulus SLTA/ Sederajat yang langsung bekerja menjadi SPG dan 8 orang masih menempuh pendidikan S1 yang memiliki kerja sambilan sebagai SPG.

3.3 Waktu bekerja menjadi SPG Otomotif

SPG Otomotif bekerja pada efen dengan waktu 8 jam sehari namun tidak regular sepanjang bulan. Biasanya hanya akan berhenti setelah even selesai yang rata-rata hanya berlangsung selama kurang lebih 10 hari. Contoh event dalam kasus ini adalah Indonesian International Motor Show atau IIMS.

Lebih dari 80% SPG yang diwawancari terikat kontrak pada vendor tertentu sehingga pada pengguna produk cukup menghubungi penyedia jasa SPG. Mereka tidak perlu melakukan sistem seleksi ketat sebagaimana menyeleksi calon pekerja di perusahaan mereka masing-masing.

3.4 Pengalaman SPG

SPG bagi sebagaian besar orang terutama pria masih dianggap sebagai pekerjaan negatif sehingga tidak jarang beberapa dari responden digoda oleh pria hidung belang.

Namun ternyata ada beberapa SPG yang memang memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang SPG. Beberapa responden mengaku pernah melayani calon costumer terutama untuk nilai kontrak yang besar agar proses pembelian produk berjalan mulus.

3.5 Penguasaan Product Knowladge

Product Knowledge yang harus dimiliki seorang SPG terkait produk yang dipromosikan lebih bersifat umum karena mereka tidak memiliki tugas pokok pada sebuah perusahaan tertentu. Para SPG ini hanya bekerja untuk vendor mereka masing-masing namun vendor profesional biasanya sudah mengaktegorikan SPG mereka berdasarkan produk sehingga pengetahuan dasar tentnag produk seperti otomotif sudah lumayan dimiliki.

3.6 Jenjang Karier

Untuk jenjang karier SPG event Otomotif banyak yang mengatakan bahwa itu hanya sambilan saja karena tidak mempunyai angan-angan jenjang karier yang lebih tinggi. Dan untuk kejelasan jenjang karier hanyalah pada saat ada event lagi mereka akan dihubungi perusahaan yang bersangkutan agar tetap menjadi SPG.

3.7 Gaji

Dalam hal ini bervariatif karena salary yang ditawarkan kepada SPG Otomitif event hanya pershif/perjam dan juga mungkin saat dapat menjualkan productnya akan mendapatkan fee atau bonus tersendiri dari perjanjian kerjanya.

3.8 Sistem Pekerjaan

Sistem pekerjaan SPG Otomotif event ini adalah kebanyakan sistem kontrak karena hanya digunakan beberapa bulan saja saat ada event atau pameran yang ada diberbagai tempat.

BAB IV
HASIL DARI PEMBAHASAN

4.1. Apa sajakah kemampuan yang harus dimiliki untuk menjadi seorang SPG otomotif

  • menguasai product knowledge dari barang yang mereka jual
  • mampu memikat konsumen sehingga tertarik untuk membeli produk mereka
  • mempunyai skill komunikasi dan menjual yang baik
  • Good attitude

4.2. Bagaimana sistem ketenaga kerjaan SPG otomotif
Sistem ketenaga kerjaan SPG Otomotif kebanyakan merupakan sistem kontrak

4.3. Apa sajakah manfaat yang diperoleh mereka selama menjadi SPG otomotif

  • mengetahui banyak tipe – tipe konsumen
  • banyak channel atau relasi
  • mengasah ilmu marketing

4.4. Bagaimana jenjang karier yang diharapkan sebagai SPG otomotif

Untuk jenjang karier SPG event Otomotif banyak yang mengatakan bahwa itu hanya sambilan saja karena tidak mempunyai angan-angan jenjang karier yang lebih tinggi. Dan untuk kejelasan jenjang karier hanyalah pada saat ada event lagi mereka akan dihubungi perusahaan yang bersangkutan agar tetap

menjadi SPG.4.5. Faktor apakah yang membuat mereka ingin bekerja sebagai SPG otomotif

  • Fisik yang mendukung
  • Tidak punya keahlian atau skill lain
  • Memanfaatkan peluang yang ada
  • Kesempatan menambah relasi untuk bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik
  • Pengalaman selling

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.