Apa Itu Parakang

5 min read

Parakang

Parakang adalah manusia yang memiliki ilmu kebatinan yang membuatnya bisa berubah menjadi hewan, pohon dan bahkan benda-benda yang ada di sekitar kita. Tujuan dari kemampuan berubah ini agar mereka bisa menyamar ketika sedang menjalankan misi mereka. Tidak heran jika beberapa artikel modern menganalogikan parakang sebagai siluman atau manusia jadi-jadian. Jadi legenda tentang Hantu Parakang itu tidaklah benar namun Manusia parakang-lah yang benar.

A. Penghisap Pallo

Namun sosok parakang ditakuti bukan karena kemapuan berubah-nya melainkan kebiasaan buruknya yang membuat nyawa manusia melayang. Konon ilmu parakang membutuhkan tumbal yang harus dipenuhi dalam kurung waktu tertentu. Tumbal tersebut adalah memenghisap Pallo’ (ᨄᨒᨚ).

Pallo sendiri adalah sebutan dari Rectum atau usus manusia. Korban yang dihisap Pallo-nya akan meninggal dengan kondisi perut kosong karena usus sudah tidak ada alias di santap oleh parakang.

1. Lolongan Anjing yang Aneh

Sekitar pertengahan tahun 2005 silam, di salah satu desa di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan batuan Karstnya yang indah, saya sendiri selaku penulis pernah mendapatkan melihat korban yang meninggal yang konon mati dihisap parakang. Sekalipun tidak ada bukti yang kuat jika korban dihisap parakang namun korban meningal dalam keadaan perut kempes.

Kisah ini saya alami ketika berkunjung di rumah keluarga di desa X, Lokasi desa x ini agak jauh dari kota dengan kepadatan penduduk yang berkumpul pada satu kelompk di setiap desa. Jadi rumah penduduk di sana itu berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil namun untuk ke kelompok rumah penduduk berikutnya itu terpisah 1 desa.

Desa ini terletak di kaki gunung karts dengan hutan lebat. Nah ketika bermalam, tetangga dari keluarga saya di desa tersebut sedang sakit dan tadi pagi ditinggal oleh keluarga ke kota untuk membeli beberapa barnag keperluan. Sekalipun kendaraan pada tahun 2005 sudah banyak, namun terkadang kebiasaan warga desa ketika berkunjung ke kota itu menghabiskan waktu satu hari sekalian menginap ke kerbata atau keluarga lain yang tinggal di kota. Inti-nya si korban ini ditinggal dalam keadaan sakit sendiri di rumah.

Posisi rumahnya sendiri tepat di depan rumah keluarga saya. Sebagai informasi, rumah di desa tersebut dibangun hanya dua baris dari jalan desa dengan pekarangan yang agak luas, sehingga otomatis rumah tempat saya menginap berbatasan dengan kebun pisang, empang dan sawah sampai ke laut. Di sisi depan ada persawahan yang membentang luas sampai ke gunung.

Nah pada malam hari sebelum korban ditemukan meninggal itu ada yang aneh dengan sekitar tengah malam. Hanya saja saya sendiri lupa jam berapa tepatnya, maklum kala itu belum ada smartphone dan siaran tivi itu belum baik kecuali rumah yang memiliki parabola. Jadilah lampu di matikan cukup cepat, beberapa jam setelah makan malam dan sholat isha.

Keanehan itu terjadi ditandai dengan adanya suara grasak-grusuk dari borong unti (kebun pisang) di belakang rumah. Suara grasak-grusuk tersebut disertai dengan suara lolongan Anjing. Hanya saja yang mendengar itu agak aneh, seperti suara orang yang berpura-pura menjadi Anjing, meskipun masih agak mirip dengan anjing sungguhan. Ada rasa gelisah namun tidak begitu di khawatirkan.

Suasana desa baru hebih ketika salah satu warga yang pulang sholat Subuh itu mengaku melihat sesosok orang yang keluar dari korban pada saat berjalan ke Masjid untuk Sholat subuh. Namun tidak jelas siapa orang tersebut karena gelap dan jalannya amatlah cepat menuju ke Borong unti yang saya sebutkan di awal. Hanya saja belum ada rasa curiga dari si warga ini.

Barulah setelah sholat subuh, mereka berbincang-bincang tentang si tetangga yang ternyata sakit dan ditinggal, warga sudah mulai curiga. Akhirnya mencoba mengunjungi si korban di rumah di rumahnya. Namun setelah hampir terang tidak ada yang menyahut jadilah warga membuka rumah dengan paksa. Yah rumah di desa memang biasanya dikunci hanya dengan kayu kecil di pinggir pintu yang disebut pallacak (ᨄᨌᨒ).

Dan si korban ditemukan meninggal dengan mengeluarkan bau busuk dan dalam keadaan perut kempes. Sembari menunggu keluar korban yang ke kota, warga desa ramai-ramai mengurus mayat. Warga desa sangat yakin jika si korban di makan parakang karena ternyata ada warga lain yang mendengar suara grasak-grusuk di kebun pisang persis sama yang saya dengar yakni Lolongan anjing yang aneh.

Menurut Kakek saya, dia sendiri pernah melihat Parakang di dekat rumah. Rumahnya berada di Kota Makassar mungkin sekitar tahun 1970-an. Sosok yang ia lihat adalah Anjing berukuran besar pada malam hari tanpa ekor. Sosok anjing ini tidak kalah anehnya dengan suara yang saya dengan karena bentuk kaki depannya tidak sama dengan kaki belakangnya. Kakek saya mendeskripsikan anjing ini memiliki kaki belakang yang besar dan panjang sedangkan kaki depat pendek dan kecil. Mirip seperti manusia yang jalan merangkak, namun tampaknya seekor anjing tanpa ekor.

Beberapa kisah yang saya pernah dengar sendiri tentang Parakang dan masih akan diaminkan oleh generasi kelahiran 80-an kebelakang, mahluk ini sering terlihat berubah menjadi

  1. Anjing tanpa ekor
  2. Pohon pisang yang hanya punya tiga lembar daun dengan dua dan lebar dan satu masih pucuk (analog dengan tangan dan kepala) uniknya Pisang ini bisanya muncul di tempat tidak biasa dan tidak memiliki anak. Kan pisang pada umumnya tidak pernah sendiri selalu tumbuh berumpun.
  3. Kamboti, seperti keranjang yang terbuat dari daun kelapa.
Kamboti atau Kerang Anyam Daun kelapa
Kamboti

Kisah tentang parakang itu bukanlah kali pertama saya mendengar teror oleh Parakang. Ibu saya pernah bercerita jika tetangga depan rumah saya dulu waktu masih kecil adalah seorang Parakang. Dia adalah sosok nenek dengan usia hampir 100 tahun dengan rambut panjang dan sebagian beruban.

Sosoknya terbongkar sebagai Parakang ketika menantu-nya kehilangan istrinya yang tidak lain adalah anak si Parakang ini sendiri. Ketika anak meninggal, si menantu menangis sejadi-jadinya simbol mengumpat dengan teriakan

“amma apa anjo, manna ana’na nakanreji”

Secara harfiah kalimat tersebut berarti ” Ibu macam apa itu, bahkan anaknya sendiri di makan”. Yah memang teriakan ini tidak sontak membuat warga menuduh si nenek ini parakang karena biasanya orang yang kehilangan itu akan ngawur karena rasa sedih yang mendalam. Namun setelah kejadian tersebut si tetangga semakin lama semakin sering mengindikasikan kalau dirinya parakang.

Kata ibu saya ketika anaknya meninggal sekitar tahun 1980-an, waktu itu belum ada telfon dan kendaraan ke desa tidaklah begitu banyak. Namun si nenek ini mengaku kalau dia akan menyampaikan kabar ke anaknya yang satu yang tinggal di kabupaten lain dengan jarak mungkin sekiatr 300 km. Nah anehnya si nenek ini pergi pagi sekitar jam 8, jam 12 sudah pulang ke rumah.

Orang-orang tidak percaya kalau si nenek berusia 80 tahun sudah menyampaikan kabar ke anaknya kabar kematian tersebut, namun si nenek mengakui kalau dia sudah menyampaikannya langsung. Warga baru heran ketika si anak yang tinggal jauh ini datang keesekon harinya karena sudah dapat kabar dari ibu-nya.

Nah lihat saja, si anak saja harus nunggu esok hari untuk mendapatkan mobil penumpang ke Makassar, malah si nenek okem ini bisa-bisanya bolak hanya dalam kurung waktu 3 jam-an. Setelah kisah tersebut ada banyak orang yang mengaku di teror sama doi, misalnya ada warga yang mengaku anaknya deman ketika di sapa oleh si nenek, atau melihat si nenek keluar malam hari padahal kan gak ada pasar malam hari, ngapain coba nenek 80 tahun keluar malam sendirian.

Puncaknya ketika ada warga yang baru datang yang katanya punya ilmu kebathinan itu mengerjasi si nenek parakang dengan menaruh beling di selokan depan rumah si nenek. Konon parakang akan berubah di comberan, jadilah dia marah karena tempat berubahnya dipenuhi beling. Makanya tanpa sadar si nenek ini turun ke selokan tersebut ketika waktu senja menjelang Magrib. Kejadian nenek parakang ini turun ke selokan dengan rambut yang acak-acakan dengan mata merah ini disaksikan oleh banyak warga dan bukannya “diusir dari kampung”seperti kisah-kisah penganut ilmu kebatinan di sinetron azab, warga malah memilih sembunyi di rumah masing dan mengurangi aktifitas malam dalam kurung waktu yang cukup lama.

2. Kampung di Kaki Dua Gunung

Selain kisah di atas, bagi mereka pendaki gunung di Sulawesi Selatan, ada sebuah kampung yang menjadi tempat persinggahan terakhir sebelum akhirnya rute pendakian. Kampung ini dulunya memiliki karakteristik unik, yakni jarak dari satu rumah ke rumah lainnya terpisah jauh, yah paling dekat 1 km lah.

Para pendaki tahun 1990-an sering menjadi rumah warga sebagai tempat istirahat sebelum esoknya naik gunung. Nah unikny ada aturan dari warga sekitar kalau mereka harus masuk rumah dan menutup rumah pada sore hari menjelang magrib sampai Isha. karena masjid jauh jadi warga sekitar akan sholat di rumah.

Nah anehnya, suasan kampung sepi itu tiba-tiba seperti ramai pada saat Senja, seperti banyak yang lalu lalang di depan rumah. Padahal siang hari saja sunyi. Coba saja bayangkan jarak antar satu rumah dengan rumah yang lainnya ada 1 km.

Nah menurut penuturan warga setempat kalau Magrib itu menjadi waktu bergeraknya ha-hal aneh di desa tersebut. Biasanya waktu berpindah Jin antar desa, ilmu santet sampai Parakang dari gunung sebelah yang berpindah. Terkait parakang, banyak Warga yang mengatakan bahwa ilmu tersebut digunakan warga agar bisa berjalan cepat dan kuat mengangkat hasil kebun yang ditanam di lereng gunung. Apalagi saat itu belum banyak mesin dan mobil canggih yang handal di medan terjal. Jadi parakang adalah salah satu solusi yang membuat mereka bisa bertahan hidup.

Konon mereka yang menjadi parakang bisa melihat terang selayakany siang hari sekalipun waktu sudah malam, Penglihatan pun bisa tembus pandang dan satu aturan yang tabu hukumnya untuk dilanggar, yakni jangan Pernah Bertanya siapakah warga desa ini yang parakang. Karena ada kemungkinan rumah yang mereka tempati itu adalah parakang, namun sebagai orang biasan dilaur sosok sebagai parakang, warga desa sana sangatlah ramah dan hangat menjamu tamu.

B. Ciri-Ciri Parakang

Meskipun saat ini Parakang seperti sudah menjadi urban Legend di kota-kota besar yakni sosok yang sudah pernah lagi terdengar aksinya secara nyata namun kisah-kisahnya sesekali masih menjadi perbincangan hangat, apalagi jika diperbincangan tersebut ada yang berasal dari genersai 80-an ke bawah.

Dijamin diskusi mengenai sosok Parakang ini akan semakin seru disertai dengan kisah-kisah yang mereka alami atau mereka dengar langsung dari para penyintas parakang. Dari sekian banyak kisah yang saya dengar tentang Parakang, Mahluk ini memiliki beberapa ciri-ciri yakni

  1. Bisa bepergian dengan jalan kaki antar kampung dalam waktu yang cepat.
  2. Bisa mendengar semua cerita yang menyangkut dirinya dalam jangkuan 7 kampung. Tolong jangan tanya berapa kilometer, gak ada yang pernah survey ke si Parakang.
  3. Tidak ingin bayangannya diinjak oleh orang lain
  4. Takut dengan Kaktus dan Tanaman Kelor.
  5. Baunya busuk seperti comberan yang menyengat, apalagi kalau habis Hensin (berubah).
  6. Cenderung pendiam dengan tatapan mata yang tajam dan mulut yang sering komat-komit seperti merapal mantra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.