Pamor Badik – Senjata Khas Sulawesi Selatan

3 min read

Jenis Jenis Badik yang ada di Sulawesi Selatan

Dzargon. Kerajaan Gowa-Tallo adalah salah satu kerajaan abad 16 yang terkenal di Nusantara dan Eropa. Kerajaan ini membangun syah Bandar yang dibangun untuk melayani perdangan rempah-rempah sampai ke Eropa, hubungan dagang dengan kerajaan Denmark, Portugis dan Belanda terjalin sampai akhirnya seriat dagang VoC berupaya memonopoli perdagangan.

Perjuangan kerajaan Gowa dan Tallo tertata rapi di catatan sejarah baik Indonesia maupun Belanda, kecuali isi sejarahnya karena dalam catatan sejarah, Sultan Hasanuddin lebih memilih hancur dibandingka harus tunduk sebagai kacung Belanda. Perjanjian Bungayya pun tidak cukup garang untuk mengancam Ayam Jantang untuk berhenti melawan Belanda.

Beberapa epos dan dongen yang bercerita tentang keberanian orang Makassar selalu melibatkan kisah heroik dan pertumpahan darah, tidak peduli seberepa besar dan kuat lawannya, orang-rang di Kerajaan Gowa-Tallo seperti tidak tau caranya melangkah mundur. Dibalik sikapnya yang keras dan tidak takut mati ini ada nilai luhur yang tertanam didalamnya.

Darah tidak ditumpahkan begitu saja tapi digunakan untuk menebus nilai yang diberi nama siri’. Siri’ secara harfiah berarti rasa malu dalam bahasa Makassar namun nilai sebenarnya adalah harga diri yang dijunjung diatas segalanya. Salah satu alat penebus siri’ di Makassar dikenal dengan nama Badi’ atau Badik.

Badik atau badek adalah sejenis pisau dengan bentuk khas yang sering digunakan orang Bugis dan Makassar dalam pertarungan. Badik sering dibawa kemana-mana bahkan beberapa orang percaya bahwa badik adalah jiwa mereka. Tidak membawa badik jika sedang bepergian sama saja meninggalkan jiwa mereka di rumah. Budaya menggunakan badik bahkan pernah mengguncangkan bangsa eropa yang mencoba menjajah kerajaan Gowa-Tallo tertutama kebiasaan orang Makassar saat menebus siri’ yakni sitobo lalang lipa.

Sitobo lalang lipa adalah budaya dua orang Makassar yang berkelahi dalam satu kain sarung dengan masing-masing pria membawa sebilah badik. Kebiasaan digunakan untuk menujukkan nilai siri’ seorang pria saat dipertanyakan masalah keyakinannya membela Sombaya.

Bentuk badik seperti pisau sederhana dengan salah satu sisi dari bilahnya tajam. Ukuran badik bervariasi berkisar 5 cm sampai dengan 30 cm. Bentuk ini bergantung tujuan sang empu membuatnya. Badik yang baik ditempa oleh orang yang berilmu, biasanya memiliki ilmu nujum sehingga badik bisa memasukkan pamor ke dalam badik. Orang Makassar dapat merasakan pamor dari badik meskipun tersembunyi. Oleh karena itu kualitas Badik mencerminkan kualitas orang yang memegangnya.

Saat ini badik diperjualbelikan secara bebas dan sudah banyak bentuk. Namun tidak semua badik yang dijual memiliki karisma atau pamor yang kuat, bahkan ada beberapa badik yang hanya berbentuk badik tanpa memiliki pamor sedikitpun. Badik dengan pamor yang tinggi biasanya tidak diperjualbelikan, karena pamor dari badik tidak akan berpindah tuan. Meskipun demikian hawa dan pamor dari masing-masing badik berbeda. Beberapa jenis badik bersifat menyerang musuh dengan hawa intimidasi dan beberapa badik jenis lain sangat cocok digunakan untuk berdiplomasi. Isi dari setiap badik bergantung dari si penempa.  

A. Badik Raja Bontoala – La Gecong

Badik raja atau badik Gecong adalah jenis badik yang banyak digunakan oleh para raja dizaman dahulu, hal inilah yang membuat Gecong diberi nama Badik Raja. Ada banyak legenda yang melekat pada badik ini termasuk cerita mistis di dalamnya. Gecong sendiri diambil dari nama empu si badik yang bernama la Gecong.

Konon pada zaman dahulu, Badik Gecong hanya bisa ditempat oleh pandai besi yang berada di sekitar daerah Kajuara. Suatu ketika di tengah malam, empu pembuat badik disana mendengar suara tempaan besi di dalam Lasenrang (tempat penempaan besi tradisional bugis) namun tidak terlihat pandai besi yang sedang bekerja. Orang-raong yang yakin jika bangsa Jin-lah yang sedang menempa. Pada pagi harinya, sebilah badik dan sarungnya ditemukan disana lalu badik tersebut diberikan ke raja untuk digunakan melindungi diri dan keluarganya.

Selain dari penempanya yang berasal dari bangsa Jin, rumor yang melekat pad abadik ini juga dianggap terbuat dari daun pohon nipah atau rumbia (Nypa fruticans). Hal ini membuat rumo rjia Badik Gecong yang asli akan terapung jika dibuat ke dalam air, jika air berarus maka Gecong akan bergerak melawan arus. Hanya saja pembuktian ilmiah sangat sulit dilakukan karena pembelaan dari kata asli tadi.

Badik Gecong Bugis

Badik Gecong juga dikenal dengan nama Badik Bontoala, Kawali ini memiliki bentuk fisik pipih dna kurus dengan panjang kisaran 20 cm sampai 25 cm. Bentuknya agak menggebung di tengah kemudian kembali runcing di ujung.

Badik Bontoala memiliki pamor Timpalaja atau Mallasoan kale, dan banyak ditemukan di hulu dair badik ini. Bahan utama pembuatan batu ini adalah besi tua atau meteorit sehingga sistem penempaannya tidak menghasilkan besi yang mulus, pamor terbentuk bergantung dari bahan yang digunakan. Badik ini mudah keropos karena minimnya kandungan karbon yang rendah.

Keropos / Karatan pada bagian tubuh badik ini menjadi racun alami badik yang membuat seperti ammoso atau berbisa ketika digunakan menikam tubuh lawan. Kebiasaan orang sulawesi selatan untuk merendam ke racun yang mengandung arsenik membuat Badik menjadi semakin mematikan.

B. Badik Luwu

Sesuai dengan namanya, Badik Luwu berasal dari daerah Luwu di bagian utara sulawei Selatan. Luwu merupakan suku tertua di Sulawesi Selatan yang disebut dalam manuscript Sawerigading. Epos yang becerita tentang asal-usul orang-orang di Sulawesi Selatan.

Bentuk Badik Luwuk lebih sederhana yang cenderung lurus dengan bentuk punggung yang membungkuku. Bentuk disebut sebagai mabbukku tedong dengan bagian ujung badik yang runcing.

Mitos yang menyelimuti badik luwu ini konon sepuhan akhir yang berbentuk rakkapeng dari Badik ini disepuh dengan sentuhan kelamin wanita yang masih perawan. Tujuannya agar sissik dari badik ini mampu melunturkan ilmu kebal dari orang yang sedang ditikam.

Badik Luwuk Rakkapeng

C. Badik Lompo Battang

Badik Lompo Battang dimabil dari bahasa makassar yang berarti si perut buncit. Dinama demikian karena bentuknya yang menyerupai perut buncit yang menggembung di bagian tengah.

Badik ini merupakan badik khas Makassar yang telah dikenal sejak 800 tahun yang lalu. Konon badik Lompo Battang pertama ditempat ulang dari pusaka Berang Alameng sehingga pamor dari badik ini menyerupai bentuk bahan dasar.

Akhir Kata

Faktanya, ada banyak jenis dan bentuk dari Badik yang ada di daerah Sulawesi Selatan, namun pada umumnya hanya dikenal tiga jenis seperti yang telah disebutkan di atas.

One Reply to “Pamor Badik – Senjata Khas Sulawesi Selatan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *