Perang Salib – Titah Paling Berdarah Paus Urbanus II dan Lembaga Gereja Katolik

3 min read

Perang Salib II Salahuddin Merebut Yerussalem

Dzargon – Rabu, 27 November 1095, Paus Urbanus II melakukan serangkaian Pidato yang berisi propaganda melaksanakan perang Salib dengan dalil Agama. Sejak pidato pertama yang dibacakan di Konsili Clermont, Perancis.

Pidato ini disepakati banyak ahli sejarah sebagai pemicu bergerak rombongan orang-orang kristen Eropa baik itu sipil bersenjata dan tentara profesional membantu kerajan Romawi Timur dalam menghadapi invasi dari kerajaan Islam, Turki Seljuk. Perang ini menjadi perang terpanjang sepanjangs ejarah peradaban umat manusi ayang berlangsung sampai 5 Abad lamanya.

Perang yang panjang membuat banyak praktek pembunuhan yang dianggap legas atas dalil agama. Para filsafat modern selanjutnya menyebut masa-masa ini sebagai masa kegelapan (Dark Ages). Selama Periode Perang Salib, Gereja Vatikan menjalankan dua peran yakni sebagai pelkasana ritual keagaamaan dan memprakarsai terbentuknya Prajurit Salib Ordo Templar.

Porpaganda perang dan biaya perang untuk membentuk Templar diduga memiliki hubungan erat dengan pengumpulan pajak besar-besaran dari Gereja Katolik. Sealin pajak pada masa ini, Gereja Katolik juga menjual surat pengampunan dosa, dimana orang bisa menebus kesalahan mereka dimana tuhan dengan membayar sejumlah uang.

Sambil berapi-api, Paus Urbanus II mengajak perang secara terbuka melalui pidato keagaaman. Sebagai bentuk ajakan, Paus Urbanus menambahkan pekikan “Deus Vult” yang berarti secara harfiah diartikan sebagai “Tuhan Menghendakinya”. Yang dikehendaki tuhan adalah pertumpahan darah Saracen di tanah Suci yang dianggap sebagai musuh tuhan.

Robert the Monk, salah satu peserta Konsili Clermont menyatakan bahwa Teriakkan God Wills it!!! ini merujuk pada ajakan Paus Urbanus kepada seluruh orang Kristen Eropa baik kaya, miskin, dan bangsawan untuk menolong sudara jauh mereka di Timur yang sedang menghadapi invasi dari kaum Turki Seljuk. Para penganut Kristen Ortodoks yang dipimpin Alexius Komnenus, selaku kaisar Byzantium.

Biodata Paus Urban II

Paus Urbanus II dilahirkan di Lagery, Perancis dengan nama Baptis Odo. Dia adalah murid dari Puas Gregory VII yang dianggap oleh pendahulunya memiliki pandangan yang revolusioner terhadap inkuisi Geraja Katolik. Hal ini dilihat dari kerasnya sikap Paus terhadap seluruh pelanggar petinggi agama Katolik.

Urbanus II menganggap bahwa seluruh pelanggaran yang dilakukan oleh para pemuka agama sebagi Bi’dah yang sesat. Kesesatan ini dianggap Urbanus II harus dilenyapkan karena merusak Inkuisi kelembagaan Gereja dan dapat menyesatkan Umat Katolik.

Pada masa Paus Urbanus II masih mudah, ada banyak Land Lord yang menjual aset-aset gereja di daerah masing-masing untuk kepentingan pribadi. Hal ini membuat Odo de Lagery dengan berani menentang tindakan para Land Lord ini yang ia anggap menjual aset tuhan. Paus Urbanus II dengan berani melawan para penguasa lahan melalui kampanye keagaaman dan posisinya di Badan Kegerajaan Eropa.

Pandangan dan keberanian Urbanus II membuat pemuka agama Katolik di Barat mendukungnya dalam pemilihan Paus. Tahun 1088 memenangkan pemilihan Paus Katolik dan dilantik menjadi pemimpin paling tertinggi di lembaga Katolik setelah berhasil mengalahkan rivalnya, Clement III.

Gejolak Dunia Kristen Timur

Pada penghujung Abad 10, di awal abad 11, terjadi gejolak di daerah Yerussalem. Yerussalem dianggap sebagai tempat suci umat Kristen diserang oleh Dinasti Fatimiyyah. Para tentara Kerajaan Syiah ini menggangu para Peziarah Kristen.

Konflik ini semakin memanas setelah Turki Seljuk berhasil mengambil Yerussalem dari tangan Kekaisaran Byzantium. Dinasti Fatimiyyah juga berhasil ditaklukkan Turki Seljuk. Perkembangan jumlah tentara dan semakin luasnya wilayah kekuasaan Turki Seljuk membuat Kaisar Romawi Timur, Byzantium merasa terancam.

Ibu Kota Byzantium, Konstatinople mendapatkan ancaman karena posisi Turki Seljuk sudah sangat dekat dengan Benteng Terkahir kerjaan Romawi Timur. Kaisar Byzantium, Alexius I Komnenus pun merasa terjepit, disisi lain mereka tidak punya kekuatan yang memadai untuk bertahan jika langkah Turki Seljuk selanjutnya adalah menyerang Konstatinople.

Hal ini membuat, Komnenus dengan sangat terpaksa meminta bantuan ke Eropa melalui hubungan keagaaman. Mereka menyurat Katolik sebagai seorang yang sama-sama menganut agama Kristen. Kendati sebelumnya, sangat panjang sejarah perbedaan pandangan antara Ortodoks dan Katolik, namun mereka masih berbagi Tanah Suci yang sama.

Bagi Byzantium, Katolik Roma adalah harapan mereka untuk menyampaikan permintaan bantuan perang ke Raja-raja Eropa dari serangan Turki Seljuk. Bagi Katolik Roma, ini adalah kesempatan untuk menyatukan lembaga Kristen yang selama terpisah oleh sekat Kristen Barat, Katolik dan Kristen Timur, Ortodoks, yang sudah lama terpecah.

Lukisan Paus Urbanus II

Seruan Perang Paus Urbanus II

Konsili Clermont yang dilaksanakan di Perancis dihadiri oleh banyak Klerus dan bangsawan eropa. Paus Urbanus II melihat pertemuan akbar tersebut adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan pidato yang berisi ajakan untuk beperang melawan Islam dan merebut Yerusalem sebagai perintah dari tuhan melalui pekikan “God Wills it” atau tuhan menginginkannya.

Dalam pidato-nya paus Urbanus II meningkatkan rasa benci terhadap muslim dan mendorong gerakan anti muslim. Pidato-pidato ini berisi kata-kata yang merendahkan orang-orang muslim dan membesar-besarkan tindakan anti kristen yang dilakukan oleh orang Turki Seljuk.

Sampai pada kalimat pamungkas dari Paus Urbanus II yang legendaris dan sering dijadikan kalimat propganda yang difilm-film bertema perang Salib, Kill a Saracen is not a murder, its path to the heaven,” dan “God Wills it!” yang secara harfiah bermakna “membunuh seorang muslim bukanlah sebuah kejahatan tapi salah satu jalan menuju surga” dan ” tuhan menginginkannya”.

Pidato Keagaaman dan propaganda Paus Urbanus II ini berhasil menarik perhatian publik. Dengan cepat isi pidato tersebut tersebar ke seluruh penjuru Eropa dna berhasil menjadi isu yang paling santer dibicarakan dari mulut ke mulus dan melalui corong gereja.

Ilustrasi Peter si Petapa yang Memimpin Pasukan Salib Gelombang Pertama

Pasukan Salib I Tanpa Komando

Sejarah mencatat, Pidato Paus Urbanus II berhasil menelusuk ke hati orang-orang kristen Eropa tidak hanya ketika Paus Hidup, bahkan sampai 5 abad kematiannya Pidato ini masih tetap menjadi dasar-dasar orang Eropa terjun ke Perang Salib.

Gelombang pertama perang salin bahkan sudah direspon sekitar 60 ribu sampai 100 ribu orang-orang eropa yang terdiri dari petani, gelandangan dan rakyat jelata. Gelombang pertama ini tanpa koordinasi yang jelas malah dipimpin oleh Peter de Hermit (Petrus si Pertapa).

Petrus merupakan seorang yang awam kepemimpinan dan kehalian militer. Berjalan ke Eropa bersama orang-orang yang tidak memiliki pengalaman militer dan hanya bergerak karena merespon khutbah Paus. Jumlah yang minim organisasi ini akhirnya menjadi beban bagi kerajaan Bizantium setibanya di wilayah kekuasaan Roma Timur.

Setelah menetap berapa lama di Konstantinople, kelompok peter diminta meninggalkan Konstatinople untuk bergerak ke tanah suci, namun karena di jalan menuju Yerussalem mereka ketemu dengan tentara profesional Seljuk Timur, hasilnya seluruh pasukan tersebut rata dengan tanah dan tanpa sisa sama sekali.

Kematian ini merupakan kematian besar pertama di perang Salib dan menyusul kekalahan-kekalahan Tentara Salib di Tanah suci kecuali pada Perang Salib Pertama dimana Baldwin II berhasil menaklukkan Yerussalem.

Paus Urbanus meninggal pada tahun 1099, dua minggu setelah Yerussalem berhasil ditaklukkan oleh tentara Salib, namun berita tersebut belum sempat sampai ke Paus Urbanus II. Meninggalkan peran Salib ini telah memicu Api perang sampai berakhir di pertengahan Abad 15, 500 tahun lebih setelah Paus Urbanus II meninggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *