Makalah – Program Relawan Peduli Janda

Dzargon – Berikut inia dalah contoh makalah dengan judul Program Relawan Peduli Janda. Makalah ini bertujuanmemerikan gambarna program apa saja yang baik disusun oleh pemeiritnah dna stake holder untuk menangulangi kesengajangan bagi wanita penyandang status janda dan butuh bantuan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan asal katanya, Janda merupakan wanita yang telah mengalami pernikahan namun tidak lagi memiliki suami. Status Janda tersebut saja didapatkan seorang wanita setelah bercerai dengan sang suami atau ditingaal meninggal dunia.

Sepeninggalan suami baik itu karen cerai ataupun karena maut, sebagai besar janda akan mengalami kesulitan hidup terutama masalah mencari nafkah hidup baik lahir maupun batin. Hal ini akan nertambah buruk jika ternyata dalam pernikahan tersebut si janda memiliki anak. Kondisi tersebut bukanlah hal muda bagi seorang janda untuk menafakahi keluarga dengan kemampuannya sendiri. Terlebih untuk beberapa wanita yang memiliki tingkah pendidikan yang rendah.

Berdasarkan deskrispsi tersebut malah disusun sebuah makalah yang diberi judul “Program Relawan Peduli Janda” sebagai upaya mengungkap sisi negatif kehidupans eorang janda beserta perjuangan melepaskan diri dari masalah ditengah tekanan dan stigma negatif dari Masyarakat,

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang ada dalam latar belakang, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah :

  1. Bagaimanakah Defenisi Akademik dari Seorang Janda?
  2. Bagaimana Kondisi Kehidupan Seorang Janda?
  3. Bagaimanakah Tantangan Kehidupan Seorang Janda Berstatus Singgle Parent?
  4. Apakah Tujuan dari Program Relawan Peduli Janda?

C. Tujuan

  1. Mengetahui defenisi baku dan akademik dari Janda.
  2. Mendeskrispsikan Kondisi kehidupan seorang Janda.
  3. Mendeskripsikan tantangan kehidupan seorang Janda.
  4. Menyusun panduan Program Relawan Peduli Janda.

D. Manfaat Makalah

Adapun manfaat dari makalah diharapkan mampu memberikan gambaran dan deskripsi lengkap tentnag tantangan yang dihadapi seorang Janda sehingga pemerintah dan pihak terkait agar supaya isi dari makalah dijadikan rekomendasi dalam mengambil kebijakan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Janda

Menurut Depdiknas (2003) Janda merupakan wanita yang sudah tidak memiliki suami lagi baik itu disebabkan meninggal dunia ataupun diceriakan olhe pasangannya. Wanita yang menyandang status janda akan mengalami beberapa kerigian baik itu secara psikologis, sosiologis, biologi dan finansial. Wanita yang dalam hal ini adalah gender yang menyandang status tersebut dianggap akan mengalami beberapa guncangan yang membuat dirinya akan lebih tidak berdaya, lemah dan perlu disantuni jika dibandingkan dengan dengan perempuan yang masih memiliki suami (Munir, 2009).

Janda bercerai merupakan perempuan yang tidak memiliki pasangan dan status kesendirian karena berpisah dengan suami baik berpisah karena perceraian maupun karena ditinngal mati. Laki-laki maupun perempuan yang telah menikah kemudian berpisah, baik yang disebabkan karena perceraian maupun kematian tetap berstatus sama. Hanya karena latar belakang budaya yang memberikan kekuasaan kepada pria atas perempuandan lebih banyak menunjuk status perempuan sebagai janda (Munir, 2009).

Ollenburger dan Moore (1996) berpendapat bahwa Norma yang melekat pada Masyarakat menganggap bahwa :

  1. Rata-rata wanita hidup lebih lama daripada pria
  2. Wanita pada umumnya menikahi pria yang lebih tua, kecuali brondong
  3. Terdapat norma yang menolak keberadaan Brodong atau wanita yang menikahi pria yang lebih muda.

Berdasarkan uraian diatas janda dapat dikategorikan sebagai janda yang di tinggal mati oleh pasangannya, atau janda yang mengalami perceraian dan berpisah dengan suaminya. Pria atau wanita yang sudah bercerai memiliki status yang sama yaitu tidak memiliki pasangan lagi dan memiliki kehidupan masingmasing setelah bercerai. Adapun norma yang berlaku di masyarakat mengenai kehidupan menjanda yang mempengaruhi perempuan.

B. Pengertian Perceraian

Istilah atau Kata “cerai” menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003) berarti: verb (kata kerja), a. Pisah; b. Putus hubungan sebagai suami istri; talak. Kemudian kata “perceraian” mengandung arti noun (katabenda), 1. Perpisahan; 2. Perihal bercerai antara suami istri, percpecahan. Adapun kata “bercerai” mengandung arti verb (kata kerja) ,tidak bercampur (berhubungan, bersatu,dsb) lagi; 2. Berhenti berlaki bini. Istilah “Perceraian” terdapat dalam Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang memuat tentang ketentuan fakultatif bahwa “perkawinan dapat putus karena :

  1. Kematian
  2. Perceraian,
  3. Atas putusan pengadilan”

Jadi, istilah “perceraian”secara yuridis berarti putusnya perkawinan, yang mengakibatkan putusnya hubungan sebagai suami istri.

Perceraian (divorce) adalah salah satu peristiwa perpisahan yang resmi antara suami-istri dan mereka kebetulan tidak bisa melanjutkan tugas dan kewajiban sebagai suami-istri. Mereka tidak lagi hidup dan tinggal serumah bersama, karena tidak ada ikatan yang resmi. Mereka yang telah bercerai tetapi belum memiliki anak, maka perpisahan tidak menimbulkan dampak traumatis psikologis bagi anak-anak. Namun mereka yang telah memiliki keturunan, tentu saja perceraian menimbulkan masalah psiko-emosional bagi anak-anak (Amato, 2000; Olson & DeFrain, 2003).

Disisi lain, mungkin saja anak-anak yang dilahirkan selama mereka hidup sebagai suami-istri, akan diikut sertakan kepada salah satu orang tuanya apakah mengikuti ayah atau ibunya (Olson & DeFrain, 2003). Menurut Abdul Kadir Muhammad

”Putusnya perkawinan karena kematian disebut dengan “cerai mati”, sedangkan putusnya perkawinan karena perceraian ada dua istilah, yaitu: a. Cerai gugat ( khulu’ ) dan b. Cerai Talak. Putusnya perkawinan
kerena putusnya pengadilan disebut dengan istilah “ Cerai batal”.

Perceraian merupakan salah satu maslaah paling sulit yang dihadapi oleh setiap pasangan pernikahan. Pasangan suami istri ibarat dua sisi mata uang hanya bernilai jika utuh, artinya jika dipisahkan maka hilanglah nilainya dan tidak bisa digunakan sebagai alat tukar yang sah. Demikian halnya pasangan suami istri, bermakna dan bersinergi hanya jika mereka tetap bersatu dan utuh sebagai keluarga. Sebaliknya jika keduanya dipisahkan, hilang pula makna dan sinerginya (Surbakti, 2008).

Tidak mudah menjalani hidup dengan perceraian, baik bagi laki-laki mauppun perempuan. Meskipun tuturan bahasa bisa diperhalus sedemikian rupa supaya tampak nirmal dan penampilan dimanipulasi supaya tampak tegar, atau susasana hati direkayasa sedemikian rupa supaya tampak wajar, namun hati nurani adalah mahkamah yang tidak pernah berbohong (Surbakti, 2008).

Banyak pasangan yang menganggap perceraian merupakan cara paling mudah dan praktis untuk menyelesaikan kemelut rumah tangga yang berlarutlarut. Banyak pasangan menaruh harap bahwa dengan bercerai, persoalan rumah tangga akan selesai dengan sendirinya. Meskipun argumentasi ini terkesan sangan naïf, mencerminkan keputusasaan, menunjukan longgarnya komitmen pernikahan,
dan minimnya tanggung jawab terhadap eksistensi rumah tangga, tetapi semakin banyak pasangan suami istri yang memutuskan perceraian sebagai pilihan akhir untuk menyelesaikan kemelut pernikahan (Surbakti, 2008).

Cewek manis Selfie baju ketat jilbob

C. Permasalahan Kehidupan Janda

Ada beberapa dimensi masalah yang dihadapi seorang janda setelah pasangannya meninggal dunia.

a. Secara finansial

Kematian pasangan selalu menyebabkan kesulitan ekonomi walaupun dalam beberapa kasus istri merupakan ahli waris dari suaminya, namun selalu ada biaya yang harus dikeluarkan misalnya untuk biaya dokter dan pembuatan makam (Kephart & Jedlicka, 1991). Bagi seorang janda, kesulitan ekonomi, dalam hal ini pendapatan dan keuangan yang terbatas, merupakan permasalahan utama yang mereka hadapi (Glasser Navarne, 1999). Karena tidak hadirnya suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah bagi keluarga, seorang perempuan harus mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab sendiri, termasuk mencari nafkah bagi dirinya dan juga anak-anaknya (Suardiman, 2001).

b. Dalam permasalahan fisik

Tidak mengejutkan jika kematian pasangan dihubungkan dengan perasaan depresi, meningkatnya konsultasi medis, kasus rawat inap di rumah sakit, meningkatnya perilaku yang merusak kesehatan, seperti merokok dan minum-minum, dan meningkatnya resiko kematian pasangan yang ditinggalkan (Santrock, 1995).

Bagi beberapa perempuan, penyesuaian mereka terhadap kehilangan suami meliputi perubahan terhadap konsep diri mereka. Peran penting perempuan sebagai seorang istri tidak akan ada lagi dalam kehidupan mereka setelah suaminya meninggal dunia. Perempuan yang telah mendefinisikan dirinya sebagai seorang istri, setelah kematian suaminya mengalami kesulitan untuk mendefinisikan dirinya sebagai seorang janda. Oleh karena itu, bagi seorang perempuan, meninggalnya suami berarti kehilangan orang yang mendukung sef-definition yang dimilikinya (Nock, 1987).

Janda manis dan cantik

c. Kehidupan sosial

Keluarga dan teman-teman biasanya selalu berada di dekat janda pada masa-masa awal setelah kematian, namun setelah itu mereka akan kembali ke kehidupan mereka masing-masing (Brubaker dalam Papalia, Old & Feldman, 2001). Masalah yang sering muncul adalah tentang hubungannya dengan teman dan kenalannya. Seorang janda sering merasa dilupakan dalam suatu kegiatan sosial oleh pasangan menikah lain karena dia dianggap sebagai ancaman oleh para istri (Freeman, 1984). Penolakan dan penilaian negatif yang berasal dari lingkungan ini dapat menyebabkan janda merasakan kesepian (Freeman, 1984).

d. Secara emosional

Janda yang telah kehilangan kehilangan suaminya, juga kehilangan dukungan dan pelayanan dari orang yang dekat secara intim dengannya (Barrow, 1996). Selain itu, ada beberapa perempuan yang seolah-olah merasakan simptom-simptom terakhir dari penyakit suaminya; ada yang mengenakan pakaian suaminya agar merasa nyaman dan dekat dengan suaminya; dan beberapa lainnya tetap memasak dan mengatur meja untuk suaminya walaupun suaminya itu telah meninggal (Heinemann dalam Nock, 1987). Beberapa janda mengatakan mereka tetap melihat dan mendengar suaminya selama setahun ataupun segera mengikuti kematian suaminya. Mereka merasa marah pada suami karena telah meninggalkannya, dan mencari-cari atau mengharapkan nasehat dari suaminya selama beberapa waktu (Caine dalam Nock, 1987).

Pada janda, terdapat goncangan emosi yang mendalam serta perasaan kehilangan, dan yang pasti, ada perasaan kesepian dan suatu keharusan untuk mengatur kembali kehidupan, termasuk juga membangun suatu kehidupan sosial yang baru (Kephart & Jedlicka, 1991). seorang janda akan merasa lebih kesepian lagi ketika dia bereaksi seperti merasa tidak berdaya tanpa suami, selalu larut dalam kesedihannya, merasa bahwa setelah suaminya meninggal dia tidak akan dapat lagi menjalani hidupnya, selalu membutuhkan suami untuk berbagi pekerjaan, merasa takut dan tidak mampu untuk membangun hubungan pertemanan yang baru, serta menghindari interaksi sosial setelah suaminya meninggal dunia.

3. Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesepian pada Janda

Kematian pasangan hidup biasanya tidak dapat dicegah, yang dampaknya melibatkan kehancuran ikatan yang telah lama dijalin, munculnya peran dan status baru, serta berbagai masalah lainnya. Tidak mengejutkan jika kematian pasangan dihubungkan dengan perasaan depresi, meningkatnya konsultasi medis, kasus rawat inap di rumah sakit, meningkatnya perilaku yang merusak kesehatan, seperti merokok dan minum-minum, dan meningkatnya resiko kematian pasangan yang ditinggalkan (Santrock, 1995). Dayakisni (2003), mengatakan bahwa diantara orang-orang yang tidak menikah (yang belum menikah, ditinggal pasangan karena bercerai dan juga karena kematian), yang paling kesepian adalah seseorang yang menjadi sendiri karena kematian pasangannya.

Setelah pasangannya meninggal/ cerai, seorang janda akan menghadapi beberapa dimensi masalah, yaitu masalah konsep diri, fisik, finansial, sosial, dan emosional. Ketika menghadapi masalah-masalah ini, seorang janda membutuhkan dukungan sosial yang berasal dari keluarga, teman, tetangga, maupun rekan kerja. Menurut Sarafino (2002) dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan, maupun bantuan dalam bentuk lainnya yang diterimanya individu dari orang lain ataupun dari kelompok.

B. Relawan

1. Pengertian Relawan

Pada organisasi yang sederhana, latar belakang relawan yang dibutuhkan tidak terlalu macam-macam. Bisa anak sekolah, boleh sarjana. Terbuka untuk yang punya keahlian khusus maupun tidak. Sebaliknya, organisasi besar dan kompleks biasanya semakin banyak membutuhkan relawan dari berbagai latar belakang.

Secara umum, tugas relawan dalam organisasi dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: mengambil keputusan atau kebijakan, mencari dana untuk membiayai kegiatan organisasi, membantu terlaksananya kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi. Dalam sebuah organisasi kita bisa saja menjadi relawan sesuai dengan peran yang kita pilih, misalnya:

  1. Relawan Kebijakan, yaitu relawan yang menjadi pengurus organisasi, merumuskan kebijakan-kebijakan umum organisasi. Untuk ini biasanya dipilih dari dan oleh anggota organisasi.
  2. Relawan Lapangan, yaitu yang langsung melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi di lapangan tanpa mengharapkan imbalan material.
  3. Relawan Sesaat, yaitu relawan yang hanya memberikan kontribusi pada saat-saat tertentu saja, tidak mengikatkan dirinya pada organisasi. Biasanya memberikan kontribusi sebagai narasumber dalam kegiatan tertentu saja.
  4. Relawan Ahli, yaitu memberikan keahlian pada organisasi, baik melalui pemberian informasi maupun konsultasi. Memberikan masukan dalam arah kebijakan program dan organisasi sebagai bahan pertimbangan pengurus menetapkan kebijakan

2. Motivasi relawan

Kalau menjadi relawan, tentu kita punya motivasi yang berkaitan dengan “mengapa” kita bersedia menjadi relawan suatu organisasi. Umumnya motivasi menjadi relawan dapat digolongkan dalam:

  1. Keagamaan. Orang melakukan sesuatu bagi sesamanya sebagai amal saleh atau perbuatan baik, dengan harapan mendapatkan balasan dari Tuhan.
  2. Rasa kesetiakawanan yang tertanam dalam hati sanubari. Orang berbuat sesuatu karena dorongan hati untuk berbuat sesuatu bagi kemanusiaan.
  3. Kebutuhan sosial. Orang aktif di organisasi, melakukan sesuatu karena dorongan untuk menjalin hubungan sesama manusia, sebab manusia merupakan makhluk sosial.
  4. Aktualisasi diri. Orang melakukan sesuatu karena dia ingin mengekspresikan dirinya, ingin berprestasi, berbuat terbaik.

Sebuah organisasi biasanya menempatkan kita sebagai relawan pada posisi tertentu, berdasarkan motivasi diri kita. Ada tiga jenis orang berdasarkan motivasinya:

  1. Orientasi pada hasil karya (need for achievement). Ciri-ciri: suka pada pemecahan suatu masalah, ingin mencapai hasil terbaik, dan senang berjuang. Tipe ini cocok diberi tugas, antara lain, penggalian sumber dana (fundraising), kampanye atau promosi, dan mengetuai suatu panitia yang mempunyai tugas khusus.
  2. Orientasi pada kekuasaan (need for power). Ciri-ciri: menaruh perhatian pada kedudukan dan reputasi, butuh mempengaruhi, senang mengubah pikiran orang lain, dan senang memberi nasihat (walaupun tanpa diminta). Jenis ini pas untuk pekerjaan penggalian sumber dana (fundraising), ceramah di muka umum atau public speaking, dan kepanitiaan dalam bidang yang berkaitan dengan perhatian publik.
  3. Orientasi pada afiliasi (need for affiliation). Ciri-ciri: senang berhubungan dengan orang lain, ingin disukai, serta senang menghibur dan menolong orang lain. Tugas yang pas untuk tipe ini: pengelolaan keanggotaan, komite pembinaan relawan, dan lain-lain.

Ada juga jenis lain atas penampilan orang-orang yang memiliki kepedulian sosial, yaitu: impulsive helper, mechanical conformist, rational organizer, solid plodder, the rebel, dan solitary.

a. Impulsive Helper

Orang yang mendasarkan kepeduliannya pada perasaan pribadi, tampil sebagai orang yang mudah trenyuh pada penderitaan orang lain, dan secara impulsif ingin menolong melalui kegiatan-kegiatan karitatif atau derma. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat karitatif.

b. Mechanical Conformist

Orang yang mempunyai kepedulian sosial cukup, tetapi terjebak dalam tata kerja yang birokratik. Mereka akan menjadi birokrat yang merasa memperhatikan rakyat, tetapi hanya di balik meja dan cenderung menolak perubahan. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang tidak menuntut inovasi

c. Rational Organizer

Orang yang mengandalkan pada pikiran rasional yang didasari data ilmiah. Kelemahannya, yaitu pada ketidakmampuannya untuk bereaksi secara tepat ketika teorinya berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan

d. Solid Plodder

Orang yang mampu menyeimbangkan antara emosi, ketrenyuhan, pikiran rasional, dan kesadaran akan keterbatasan kemampuannya. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan dan kegiatan operasional lapangan

e. The Rebel

Orang yang disebut “pemberontak”, mempunyai kepedulian yang tulus, tetapi ingin menyelesaikan masalah dengan radikal. Kelompok ini cenderung membentuk LSM (organisasi) “asal beda”, misalnya jika pemerintah bilang “A”, mereka harus bilang “B”. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan advokasi (membela orang lain melalui jalur hukum).

f. Solitary

Orang yang bekerja sendirian, tidak melalui kelompok atau organisasi. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang tidak menuntut “kerja sama langsung”, jenis pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan ketekunan sendiri, misalnya dalam desain grafis.

D. Single parent

Single parent adalah pria atau wanita dewasa yang membesarkan dan mengasuh anak tanpa keberadaan pasangan. Terjadinya perpisahan di dalam suatu keluarga, baik itu terjadi karena perceraian maupun karena meninggalnya salah satu orang tua membuat orang tua mereka singleparent(Dagun, 2002).

Harlock (1980) menyatakan bahwa seseorang yang kehilangan pasangannya, dimana dia harus menghadapi masalah sosial sendiri tanpa pasangannya. Sedangkan menurut Heines dan Sciden (2006) single parent adalah seseorang yag harus bekerja sekaligus membesarkan anaknya. Seorang yang menjadi single parent harus memenuhi kebutuhan akan kasih sayang dan juga keuangan, berperan sebagai ayah dan ibu sekaligus, serta mengendalikan kemarahan atau depresi yang dialami oleh anaknya maupun dirinya sendiri.

Suryasoemitra (2007) mengungkapkan bahwa single parent adalah seseorang yang harus menanggung beban pendidikan dan beban emosional yang seharusnya dipikul bersama pasangannya. Orang tersebut juga harus sabar dan kuat secara fisik dan mental karena harus mencari nafkah untuk anak-anaknya.Single parent bagi pria kebanyakan adalah lebih merupakan pilihan nasib, sama sekali tidak tepat suatu trend (kecendrungan) hanya saja segelintir artis menjalaninya dengan terbuka.

Adalah seorang ayah atau seorang ibu yang memikul tugasnya sendiri sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga.

  1. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh single parent
    1. Keterbukaan – Menyandang status single parent (janda/duda) sebenarnya bukanlah suatu hal yang harus ditutup-tutupi. Ketika masyarakat menilai status itu dengan prasangka negatif, sebagian orang justru bisa menunjukan bahwa menjadi single parent justru bukan sesuatu yang buruk.
    2. Mengisi waktu – Sebagai manusia biasa, kehilangan pasangan hidup bisa menimbulkan rasa kesepian, rasa kesendirian yang mendalam biasanya muncul ketika dia sedang dilanda masalah.
    3. Membuka diri untuk masa depan – Berbagi cerita dengan orang-orang yang bernasib sama adalah salah satu terapi yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan psikologis. Kegiatan ini juga dilakukan oleh mereka yang tidak siap menjalani statusnya sebagai single parent (janda/duda). Melalui komunitas berbagi ini mereka dapat membuka diri untuk pergaulan meski tetap masih memilih-milih teman.
  2. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh single parent berkaitan dengan anaknya
    1. Selain berharap ayah dan ibunya berumur panjang, anak-anak mengharapkan kedua orang tuanya itu senantiasa hadir ditengah-tengah mereka
    2. Terjadinya kesepahaman antara suami dan isteri dalam berbagai hal yang berhungan dengan kehidupan pribadi dapat berpengaruh pada diri anak
    3. Terdapatnya sistem dan aturan yang sama dalam membina rumah tangga dan mendidik anak bukan berarti meniadakan sistem dan aturan yang lain
    4. Tersedianya berbagai perlengkapan rumah tangga tentunya untuk kehidupan yang wajar dan tidak bermegah-megahan
    5. Adanya rasa kasih sayang yang bersumber dari keyakinan dan keimanan, inilah yang akan mempersatukan suami dan isteri dengan anggota keluarga yang lain
  3. Dilema Anak – Selain berbagi kiat cara menghadapi stigma sosial, komunitas tersebut juga dapat saling memberikan masukan tentang bagaimana menjadi orang tua tunggal, untuk selalu terbuka dengan anaknya dalam berbagai masalah.
  4. Mental anak
    1. Ketidakhadiran ayah bagi anak perempuan tidak memberi dampak yang besar dibandingkan dengan ketidakhadiran ayah pada anak laki-laki.
    2. Jangan mengevaluasi anak dengan kata-kata yang negatif sehingga anak-anak kehilangan kepercayaan diri
    3. Libatkan dia dengan lingkungan keluarga yang memiliki anak laki-laki dan izinkan dia untuk mengambil keputusan atas nama dan untuk dirinya sendiri
  5. Dampak single parent bagi perkembangan anak
    1. Tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik sehingga anak kurang dapat berinteraksi dengan lingkungan, menjadi minder dan menarik diri
    2. Pada anak single parent dengan ekonomi rendah, biasanya nutrisi tidak seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan terganggu
    3. Single parent kurang dapat menanamkan adat istiadat dan murung dalam keluarga, sehingga anak kurang dapat bersopan santun dan tidak meneruskan budaya keluarga, serta mengakibatkan kenakalan karena adanya ketidakselarasan dalam keluarga
    4. Dibidang pendidikan, single parent sibuk untuk mencari nafkah sehingga pendidikan anak kurang sempurna dan tidak optimal
    5. Dasar pendidikan agama pada anak single parent biasanya kurang sehingga anak jauh dari nilai agama
    6. Single parent kurang bisa melindungi anaknya dari gangguan orang lain, dan bila dalam jangka waktu lama, maka akan menimbulkan kecemasan pada anak atau gangguan psikologis yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak
  6. Dampak single parent terhadap ibu
    1. Beban ekonomi
    2. Fungsi seksual dan reproduksi
    3. Hubungan dalam interaksi sosia
  7. Ciri keluarga single parent yang berhasil
    1. Menerima tantangan yang ada selaku single parent dan berusaha melakukan dengan sebaik-baiknya
    2. Pengasuhan anak merupakan prioritas utama
    3. Disiplin diterapkan secara konsisten dan demokratis, orang tua tidak kaku dan tidak longgar
    4. Menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan pengungkapan perasaan
    5. Mengakui kebutuhan untuk melindungi anak-anaknya
    6. Membangun dan memelihara tradisi dan ritual dalam keluarga
    7. Percaya diri selaku orang tua dan independent
    8. Berwawasan luas dan beretika positif
    9. Mampu mengelola waktu dan kegiatan keluarga
  8. karakter dalam keluarga single parent yang prima
    1. Adanya kualitas waktu yang dihabiskan bersama dalam anggota keluarga.
    2. Memberikan perhatian lebih, termasuk dalam hal-hal kecil, seperti meninggalkan pesan yang melukiskan perhatian dari orang tua
    3. Keluarga yang prima adalah keluarga yang saling komitmen satu sama lainnya
    4. Menghormati satu sama lain, contohnya : dengan mengucapkan atau mengekspresikan rasa sayang kepada anak-anak, mengucapkan terima kasih pada saat anak-anak selesai melakukan tugas yang diberikan
    5. Kemampuan berkomunikasi penting dalam membangun keluarga yang prima
    6. Kondisi krisis dan stress dianggap sebagai tahapan kesempatan untuk terus berkembang
  9. Pentingnya konseling agar dapat :
    1. Menyesuaikan diri terhadap lingkungan
    2. Penerimaan ibu dan anak dalam lingkaran keluarga
    3. Masuk dalam lingkungan keluarga/masyarakat secara wajar
    4. Upaya menyatukan kembali keluarga, bagi keluarga mereka yang ditelantarkan suami/ayah

E. Pemberdayaan perempuan

Pemberdayaan Permpuan adalah usaha sistematis dan terencana untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Pemberdayaan perempuan ” sebagai sumber daya insani, potensi yan dimiliki perempuan dalam hal kuantitas maupun kualitas tidak dibawah laki-laki. Namun kenyataannya masih dijumpai bahwa status perempuan dan peranan permpuan dalam masyarakat masih bersifat subordinatif dan belum sebagai mitra sejajar dengan laki-laki”.

  1. Tujuan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan – Untuk meningkatkan status, posisi dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setrara dengan laki-laki
    Untuk membangun anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan bertaqwa serta terlindungi.
  2. Realisasi Pemberdayaan Perempuan
    1. Meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan di berbagai bidang kehidupan
    2. Meningkatkan peran perempuan sebagai pengambil keputusan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender
    3. Meingkatkan kualitas perandan kemandirian organisasi perempuan dengan mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan
    4. Meningkatkan komitmen dan kemampuan semua lembaga yang memperjuangkan kesetaraan dan kaeadilan gender
    5. Mengembangkan usaha pemeberdayaan perempuan, kesjahteraan keluarga dan masyarakat serta perlindungan anak.
  3. Kebijakan Dasar Pemberdayaan Perempuan
    1. Pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasioanal dilakukan melalui “one door policy” atau kebijakan satu pintu,
    2. Peningkatan kualitas SDM perempuan,
    3. Pembaharuan hukum dan peraturan perundang-undangan
    4. Penghapusan kekerasan terhadap perempuan
    5. Penegakkan hak asasi manusia (HAM) bagi perempuan,
    6. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak
    7. Pemampuan lembaga pemerintah dalam pemberdayaan peerempuan.Peningkatan peran serta masyarakat
    8. Perluasan jangkauan pemberdayaan perempuan
    9. Peningkatan penerapan komitmen internasional.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Program

Gambaran umum program mengacu pada sepuluh patokan DIKMAS diantaranya yaitu:

1. Warga Belajar

Warga belajar dari program Relawan Peduli Janda yaitu perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, baik itu perempuan yang ditinggal mati atau bercerai, atau dengan kata lain warga belajar dari program ini yaitu para janda yang membutuhkan perhatian.

2. Ragi Belajar

Ragi Belajar adalah rangsangan yang mampu membangkitkan semangat belajar warga belajar, sehingga proses pembelajaran terjadi; terjadi tanpa paksaan, gertakan tetapi karena kesadaran warga belajar serta kekuatan yang ada pada ragi belajar itu sendiri. Ragi belajar merupakan kekuatan yang dahsyat baik yang bersumber dari luar diri warga belajar maupun yang sebenarnya ada dalam diri warga belajar yang menyebabkan warga belajar menjadi senang, gembira dan gigih untuk terus belajar. Ragi inilah yang menyebabkan proses pembelajaran terus berjalan sampai tujuan tercapai.

Ragi belajar pada program ini lebih kepada finansial dan juga keluarga, dimana para janda lebih membutuhkan kebutuhan ekonomi untuk menapkahi keluarga dan mampu bekerja tanpa melupakan tugasnya sebagai ibu rumahtangga.

3. Sumber Belajar

Sumber belajar adalah warga masyarakat yang memiliki kelebihan baik dibidang pengetahuan, keterampilan, sikap dan mampu serta mau mengalihkan apa yang dimilikinya pada warga belajar melalui proses belajar.

Sumber belajar dalam program RPJ terdiri dari beberapa ahli diantaranya dari ahli agama, ahli kesehatan, ahli sosial atau psikolog, kewirausahaan, tokoh wanita mandiri, serta yang menunjang lainnya seperti buku, perpustakaan, pengalaman dan lain-lain.

4. Kelompok belajar

Kelompok belajar adalah para warga belajar yang menghimpun kelompok dalam kegiatan.
Para janda akan dibuat kelompok terutama dalam pengelompokan wirusaha berdasar kompetensi yang dimiliki dan keadaan peserta yang mendukung.

5. Pamong belajar

Pamong belajar adalah pegawai negri sipil yang diberi tugas, penanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka pengembangan model dan pembentukan percontohan serta penilaian dalam rangka pengendalian mutu dan dampak pelaksanaan program pendidikan luar sekolah. Pamong belajar dari dalam program RPJ yaitu Kementrian Perempuan dan Perlindungan anak, PKK, Kepala Desa, Kepala Daerah dan lain-lain.

6. Tempat Belajar

Tempat Belajar adalah tempat untuk melakukan proses pembelajaran. Tempat belajar dari program RPJ yaitu balai desa dan lingkungan desa.

7. Sarana Belajar

Sarana Belajar adalah alat atau bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Adapun sarana belajar dari program RPJ yaitu :

  1. Laptop dan proyektor
  2. Alat memasak
  3. Meja
  4. Kursi
  5. Soundsistem

8. Dana Belajar

Dana belajar merupakan dana untuk menunjang kaberlangsungan dari kegiatan belajar. Adapun dana dalam program RPJ yaitu berasal dari Dana Pemberdayaan Desa, sponsor, Mitra dana APBD, Dana CSR.

9. Program Belajar

Ada beberapa program yang akan kami jalankan, yang semuanya diadakan melihat dari kondisi yang dialami para janda dan anaknya. Diantara programnya adalah

a. Kewirausahaan

Seorang istri yang ditinggal suami, sebagian besar akan mengalami masalah dalam bidang eknomi, seperti yang dijelaskan dalam bab II landasa Teori tentang kesulitan finansial karen tiak ada sosok pencari nafkah.Pada program ini, diharapkan janda akan menjadi mandiri dengan berwirausaha sendiri.

Kewirausahaan lebih memfokuskan pada usaha kuliner yaitu usaha Cup Cake Janda dan juga usaha Catering.

b. Parenting Tanpa Ayah

Berdasar teori bahwa anak yang dibesakan tanpa ayah akan mengalami dampak

buruk untuk kondisi anak, dan teori tentang kondisi ibu yang membesarkan anak tanpa ayah,baik finansial, fisik, sosial dll, maka program ini mengharapkan para ibu tanpa ayah akan mendidik anak dengan baik melalui pengetahuan dan praktek yang nanti akan diberikan. Program ini akan dijalankan secara berkelanjutan dan bertahap. Dan juga akan diberikan pendammpingan tentang pendidikan anak oleh ahlinya.

c. Senam

Ini salah satu program agar para janda lebih terbuka dengan lingkungan sosial, dan lebih menyibukan diri agar tidak terus tenggelam dalam kesedihan.

10. Hasil Belajar

Hasil dari program RPJ yaitu menjadikan para janda lebih mandiri, kreatif, produktif, dan mampu menjadi single parent yang berkualits.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Program Relawan Peduli Janda (RPJ) merupkan program sosial yang bertujuan untuk membantu masyarakat, khususnya para janda, dengan harapan para janda menjadi mandiri, kreatif, dan produktif.

B. Saran

Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik itu mengenai materi yang dibahas ataupun mengenai Bahasa yang digunakan, oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis butuhkan dalam memperbaiki makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Singe parent, Dr. Ali Qaini.Jurnal perempuan 33 tentang perempuan dan pemulihan konflik
komunitasrelawan.blogspot.co.id/2011/05/jenis-dan-peran-relawan.html

http://domoagre.blogspot.co.id/2014/08/10-patokan-dikmas.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.