Hasil penelitian Xiaohan Shi menunjukkan bahwa wanita
Penelitian terbaru mengungkap bahwa cara sebuah foto idealisasi penampilan diberi konteks—baik melalui keterangan dari pengunggah maupun komentar pengguna—dapat memengaruhi respons perempuan muda terhadap citra tubuh mereka.
Media sosial semakin dipenuhi foto dengan penampilan yang terlihat sempurna. Kulit mulus, wajah tanpa cela, tubuh proporsional, hingga foto yang telah melalui berbagai proses penyuntingan digital menjadi pemandangan yang umum di platform visual seperti Instagram dan Xiaohongshu.
Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Body Image menemukan bahwa bukan hanya gambar yang dilihat pengguna yang berpengaruh, tetapi juga informasi yang menyertai gambar tersebut. Penelitian yang dilakukan Xiaohan Shi dan timnya menunjukkan bahwa keterangan yang menjelaskan proses pembuatan foto serta komentar yang mengajak pengguna mempertanyakan realitas gambar dapat membantu mengurangi dampak negatif paparan foto idealisasi penampilan.
Daftar Isi
Foto “Sempurna” dan Persoalan Citra Tubuh
Para peneliti menjelaskan bahwa gambar dengan penampilan yang sangat ideal—misalnya tubuh yang sangat ramping, kulit tanpa cela, atau foto yang telah mengalami penyuntingan digital—dapat mendorong seseorang membandingkan dirinya dengan standar kecantikan yang ditampilkan.
Paparan semacam ini dikaitkan dengan meningkatnya body dissatisfaction atau ketidakpuasan terhadap tubuh. Dalam konteks media sosial, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena pengguna tidak hanya melihat gambar, tetapi juga membaca caption dan komentar yang membingkai bagaimana gambar tersebut dipahami. 1-s2.0-S1740144526001002-main
Menariknya, penelitian ini tidak hanya bertanya apakah peringatan tentang manipulasi foto efektif. Para peneliti justru membandingkan berbagai bentuk keterangan dan komentar untuk melihat apakah tingkat informasi yang diberikan dapat menghasilkan perbedaan.
Dua Eksperimen dengan 198 Perempuan Muda
Penelitian dilakukan melalui dua studi eksperimental yang melibatkan perempuan berusia 17–25 tahun.
Pada Studi 1, sebanyak 106 mahasiswa perempuan dibagi ke dalam tiga kelompok. Mereka melihat foto-foto dengan penampilan ideal dalam tiga kondisi: foto tanpa keterangan, foto dengan self-disclaimer singkat, dan foto dengan self-disclaimer yang lebih rinci. Peserta melihat 14 gambar, masing-masing selama 30 detik, kemudian tingkat ketidakpuasan tubuh mereka diukur kembali.
Hasilnya cukup menarik.
Kelompok yang hanya melihat foto ideal dan kelompok yang mendapatkan keterangan singkat sama-sama mengalami peningkatan ketidakpuasan terhadap tubuh. Sementara itu, kelompok yang membaca keterangan lebih rinci justru menunjukkan penurunan ketidakpuasan tubuh setelah melihat gambar-gambar tersebut. Perbedaan pola antar kelompok secara statistik signifikan.
Apa yang dimaksud keterangan rinci?
Bukan sekadar tulisan seperti “foto ini sudah diedit”.
Dalam penelitian tersebut, keterangan rinci menjelaskan proses di balik terciptanya foto, mulai dari persiapan, pemilihan foto, pencahayaan, penggunaan filter, hingga penyuntingan digital. Salah satu contoh materi eksperimen menjelaskan bahwa seseorang menghabiskan waktu mempersiapkan rambut dan riasan, mengambil lebih dari 100 foto, memilih sudut tertentu, kemudian menggunakan skin smoothing, filter, dan penyuntingan foto. 1-s2.0-S1740144526001002-main
Dengan kata lain, foto yang terlihat sempurna dibuat lebih transparan dengan memperlihatkan proses di balik kesempurnaan tersebut.
Bagaimana dengan Komentar di Media Sosial?
Para peneliti kemudian menguji pertanyaan berbeda: apakah komentar pengguna lain dapat mengubah respons terhadap foto idealisasi penampilan?
Pada Studi 2, sebanyak 92 perempuan muda dibagi menjadi tiga kelompok. Mereka melihat foto yang sama dalam tiga kondisi: tanpa komentar, dengan komentar yang memuji penampilan, dan dengan komentar yang secara kritis menunjukkan bagian-bagian foto yang terlihat tidak realistis atau telah dimanipulasi. 1-s2.0-S1740144526001002-main
Hasilnya kembali menunjukkan perbedaan yang menarik.
Peserta yang melihat foto dengan komentar positif tentang penampilan tetap mengalami peningkatan ketidakpuasan tubuh. Hasilnya tidak berbeda secara signifikan dari kelompok yang hanya melihat foto tanpa komentar.
Sebaliknya, kelompok yang melihat komentar kritis terhadap realisme foto tidak menunjukkan perubahan signifikan pada ketidakpuasan tubuh.
Komentar tersebut tidak menyerang atau merendahkan perempuan dalam foto. Fokusnya justru pada aspek konstruksi gambar, seperti skin smoothing, pemutihan kulit berlebihan, pencahayaan, pose, filter, atau retouching digital. 1-s2.0-S1740144526001002-main
Bukan Berarti Komentar Positif Itu Buruk
Temuan penelitian ini perlu dibaca secara hati-hati.
Peneliti tidak menyimpulkan bahwa komentar positif selalu berbahaya. Dalam eksperimen ini, komentar positif yang berfokus pada penampilan tidak memberikan perlindungan terhadap peningkatan ketidakpuasan tubuh dibandingkan kondisi foto tanpa komentar.
Sebaliknya, komentar yang mengajak pengguna mempertanyakan seberapa realistis sebuah gambar tampaknya memberikan konteks yang berbeda. Perhatian pengguna diarahkan dari sekadar “seberapa cantik atau sempurna orang ini?” menjadi “bagaimana gambar ini dibuat sehingga terlihat seperti ini?” 1-s2.0-S1740144526001002-main
Perubahan cara melihat inilah yang menurut peneliti berpotensi mendorong pemrosesan informasi yang lebih kritis.
Dari “Saya Tidak Secantik Itu” Menjadi “Foto Ini Memang Sudah Dikonstruksi”
Temuan tersebut dapat dipahami melalui Heuristic–Systematic Model.
Keterangan yang sangat singkat mungkin tidak memberikan cukup informasi untuk membuat seseorang mengevaluasi ulang gambar secara mendalam. Sebaliknya, informasi yang lebih rinci mengenai proses pembuatan gambar dapat membuat aspek manipulasi foto menjadi lebih terlihat dan mendorong evaluasi yang lebih reflektif.
Hal serupa terlihat pada komentar critical realism. Ketika pengguna diberi informasi spesifik mengenai bagian gambar yang kemungkinan telah dimanipulasi, perhatian mereka dapat bergeser dari penampilan ideal menuju proses konstruksi gambar tersebut.
Inilah yang kemudian berkaitan dengan konsep literasi media: kemampuan untuk tidak menerima begitu saja apa yang ditampilkan media sebagai representasi realitas.
Mengapa Temuan Ini Penting bagi Media Sosial?
Penelitian ini memberikan perspektif menarik bagi platform media sosial, pendidik, dan program literasi digital.
Alih-alih hanya memberikan label sederhana seperti “foto telah diedit”, penelitian ini menunjukkan bahwa transparansi yang lebih informatif mengenai bagaimana sebuah gambar dibuat mungkin lebih bermakna. Para peneliti menyebut kemungkinan penerapan berupa dukungan terhadap praktik pengungkapan proses penyuntingan, peningkatan visibilitas informasi mengenai manipulasi gambar, hingga penggunaan pesan literasi media.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah foto menggunakan filter atau tidak.
Yang juga penting adalah apakah pengguna memahami bahwa foto tersebut merupakan hasil dari proses pemilihan, pencahayaan, pose, penyuntingan, dan konstruksi visual tertentu.
Tetapi Penelitian Ini Memiliki Keterbatasan
Para peneliti juga menekankan bahwa hasil tersebut belum dapat digeneralisasi begitu saja kepada seluruh pengguna media sosial.
Peserta penelitian terutama merupakan mahasiswi berusia 17–25 tahun dari universitas di China. Selain itu, penelitian menguji self-disclaimer dan komentar secara terpisah, padahal dalam penggunaan media sosial sehari-hari berbagai jenis teks dapat muncul secara bersamaan. Penelitian juga belum dapat menentukan secara pasti bagian mana dari self-disclaimer yang paling bertanggung jawab terhadap efek perlindungan tersebut.
Para peneliti karena itu menyarankan penelitian lanjutan dengan variasi stimulus yang lebih luas serta pengukuran yang lebih langsung terhadap respons citra tubuh dan mekanisme seperti perbandingan sosial atau perhatian visual.
Pesan Besarnya: Jangan Langsung Percaya pada “Kesempurnaan” di Layar
Penelitian ini memberikan satu pesan penting tentang bagaimana kita membaca gambar di media sosial.
Foto yang terlihat sempurna belum tentu menggambarkan realitas secara utuh.
Keterangan yang menjelaskan proses pembuatan foto dan komentar yang mengidentifikasi unsur-unsur tidak realistis dapat membantu pengguna melihat bahwa sebuah gambar merupakan hasil konstruksi visual, bukan sekadar cerminan kondisi nyata.
Studi tersebut menyimpulkan bahwa kekayaan informasi dan transparansi konteks menjadi faktor penting dalam bagaimana pengguna merespons gambar idealisasi penampilan. Temuan ini juga membuka peluang bagi pengembangan pendidikan literasi media dan strategi platform untuk menciptakan lingkungan media sosial yang lebih sehat bagi citra tubuh.
Sumber: Shi, X., He, T., Yao, L., Niu, G., & Sun, X. (2026). How self-disclaimers and comments shape the influences of idealized appearance images on young adult women’s body dissatisfaction. Body Image, 58, 102126. Artikel diterbitkan secara daring pada 6 Juni 2026.


